Lebaran yang selalu begitu

Menggosok debu yang berkerak di lantai yang jarang dipijak,
Di rumah yang sudah lama didiami hingga orang yang tinggal tak lagi banyak

Rasanya serupa membuka album foto yang sudah lama

Tapi rasa yang menyerbu masuk ke dalam dada kentalnya lebih terasa
Ini hari Lebaran,

Dimana banyak orang sengaja atau tidak meraup haru dan rindu yang tak dapat digenggam erat oleh tangan
***

Leave a comment

Filed under Ngalor Ngidul

Menjelang Lebaran

Aku menengadah melihat jendela-jendela yang terang oleh cahaya matahari. 

Rumah nampak lapang dan benderang karena gorden dan karpet yang belum dipasang.
Lalu segumpal rasa nan sejuk masuk berputar dalam dadaku hingga terasa sampai pada udara yang aku hirup,

“Aku rindu padamu, Mama.”

Leave a comment

Filed under Ngalor Ngidul

Mie Aceh

Mie Aceh kesukaanku ini rasanya enak, Pa.

Biasanya aku akan semangat melahapnya.

Mie Aceh ini tetap enak rasanya, Pa.

Tapi di lidah.

Tidak di hatiku.

Mengingatmu beberapa hari ini kehilangan nafsu makan.

Hanya susu dan minuman sereal kemasan yang kau bilang ‘enak’.

Tapi aku bersyukur masih ada yang masuk ke dalam perutmu.

Aku menyantap Mie Aceh ini dengan mata yang basah dan hidung berair, Pa.

Bukan karena pedasnya, tapi memikirkanmu yang tidak berselera makan dan tubuhmu semakin kurus.

Semoga nafsu makanmu kembali lagi.

Akan kucari semampuku makanan yang engkau suka, Pa.

InsyaAllah.

Cepat sembuh, Papa.

Leave a comment

30/05/2017 · 15:14

Menyerah saja…

Manusia berlomba

Membuat segala yang dapat menembus bumi
Membuat segala yang dapat mengangkat ke langit
Lalu pongah dengan hasil yang sedikit

Sudah menyerah saja,
Pada akhirnya manusia harus tau diri
Untuk apa dia diciptakan

Sepayah mungkin berusaha…
Pada akhirnya yang dibuat manusia hanya tiruan-tiruan
Tiruan yang jauh dari sempurna

Sudah menyerah saja,
Manusia tidak dapat membuat rindu
Bahkan tiruannya sekalipun…

.

.

Jakarta yang deket Bekasi, menjelang
sampai setelah adzan Maghrib, 18 Mei 2017

picture taken from pixabay

Leave a comment

Filed under Ngalor Ngidul

Harap

​Anakku harus bisa membaca Al-Qur’an

Karena Al-Qur’an akan melipur laranya, menghapus kesedihannya…
Anakku harus dapat membaca Al-Qur’an

Karena didalamnya semua petunjuk jalan-jalan yang harus ia tapaki, pun jalan-jalan yang harus ia hindari
Anakku, semoga ia mendekap erat Al-Qur’an dalam hidupnya,

Sehingga…

Sepi tidak akan menghujamnya

Lelah tidak akan menghimpitnya

Perihal cinta akan diketahui dimana sejatinya

Ketika sekali helaan nafas ia terlupa, pada helaan berikut lekas ia kembali mengingat Rabb-nya
Anakku, semoga dadanya dipenuhi dengan kalimat-kalimat Allah,

Sehingga

Ia tak akan gentar…

Ia tak akan rapuh…

Ia tak akan layu…

Ia tahu, Ia yakin…

Ketika dunia berpaling, Rabb-nya tidak…
Harapan-harapanku yang terbilang barusan harus bermula dariku
Akulah yang harus bisa membaca Al-Qur’an

Aku yang harus terlebih dulu dapat membaca Al-Qur’an

Aku yang harus mendekap erat Al-Qur’an saat melangkah

Aku pula yang harus memenuhi hatiku dengan Al-Qur’an

Maka aku memiliki gempita untuk menuntun anakku
Berat memang

Payah terasa

Karena lama Al-Qur’an sempat tertinggal

Berganti syair-syair imitasi bahagia
Biar tertatih,

Tapi rahmat Allah bukan tak mungkin diraih
Ya-Rabb

Ini aku meminta

Ringankanlah langkahku…

Leave a comment

Filed under Ngalor Ngidul

Membeli Surga

​Fika melambai pada anak bungsunya yang mulai nampak mengecil seiring mobil jemputan sekolah bergerak menjauh dari rumah. Setelah menutup pagar, ia mendengar perutnya berbunyi minta diisi, dengan langkah santai ia menuju meja makan dan alisnya sedikit terangkat melihat nasi goreng di piring besar hanya tersisa beberapa butir.
Pemandangan sisa nasi goreng itu melukis senyum di wajahnya. Pagi ini nasi gorengnya laris untuk sarapan suami dan anak-anak. Namun senandung di perutnya kembali terdengar.
Hanya dalam hitungan detik, ia memutuskan pergi ke ujung jalan komplek untuk membeli ketoprak kesukaannya. Dengan segera ia mengganti pakaiannya lengkap dengan jilbab dan kaus kaki. Ketika hendak meraih dompet di atas meja rias, Fika berpikir, agaknya malas harus menenteng dompet jika hanya untuk membeli ketoprak yang tidak jauh dari rumah. Ia mengambil selembar lima puluh ribu dari dalam dompet. Saat hendak berbalik badan, langkahnya tertahan,
‘Mungkin nanti aku mampir ke tukang sayur.’, batinnya. Diambilnya selembar uang seratus ribu dari dalam dompetnya.
Setelah mengunci pintu dan pagar, Fika melangkah menuju ujung jalan komplek, dari tempatnya berjalan sudah terlihat gerobak berwarna biru muda milik tukang ketoprak. Tak lama Fika sampai, beberapa orang sudah mengantri. 
“Satu, dibungkus ya, Pak. Pedes.”, Fika menyampaikan pesanannya. Bapak tukang ketoprak mengiyakan sambil tetap mengerjakan pesanan lain yang sedang ditunggu empat orang yang sedang duduk di kursi kayu panjang.
Sesekali Fika melemparkan pandangannya ke sekeliling. Beberapa tetangga yang lewat bertukar sapa dengannya.
Sebuah gerobak kayu besar berisi banyak pisang melintas pelan. Fika melihat pada bapak tua yang mendorong gerobak itu. 

Dalam hatinya menyelisip iba yang membuat ia harus menarik nafas agak dalam. 

Bapak tua berkulit legam dengan baju yang warnanya sudah tidak terang. Sandal jepitnyapun sudah tipis. Usianya mungkin sudah diatas bilangan tujuh puluh.
Fika bergegas mendekati bapak tua itu.

“Pak, pisangnya berapa?”

“Sepuluh rebu, neng.”

“Saya mau satu ya, Pak…”

Bapak itu mengangguk, mengambil sebuah plastik hitam tipis yang sudah kusut dari bawah gerobaknya. 
Pisang yang sudah dimasukkan ke dalam plastik berpindah tangan, Fika menyodorkan selembar lima puluh ribu.
“Neng, kembaliannya belum ada.”

“Gak usah, Pak.”

“Makasih ya neng.”, sahut si Bapak tua pelan.

“Sama-sama, Pak.”, ujar Fika sambil berjalan kembali menuju gerobak ketoprak.
Pesanan ketoprak belum lagi selesai. Otak Fika berputar-putar menghitung, ‘Harga sesisir pisang ini sepuluh ribu, mungkin untung si Bapak tidak banyak. Uang kembalian empat puluh ribu yang utuh untuk si Bapak. Empat puluh ribu kalau dibelanjakan ke mini market hari gini dapet apa….’.
Bapak tua yang mendorong gerobak berisi pisang bergerak menjauh. Fika berlari mengejarnya. Khawatir Bapak tua itu makin menjauh untuk disusul.

Ketika hampir sampai, Fika berteriak pelan,

“Pak..! Pak..!”, Fika sedikit tersengal. Gerobak pisang berhenti.

“Maaf, uang yang tadi ditukar ya, Pak..”

Tanpa ekspresi, Bapak tua itu mencopot topi yang dikenakannya, mengeluarkan lembaran lima puluh ribu yang tadi diberikan Fika dari lapisan dalam topinya. Diserahkannya uang itu pada Fika.
“Ini, Pak.”, Fika menyerahkan selembar seratus ribu. 

Jemari kurus hitam dan berkeriput itu menerima uang dari Fika. Wajahnya  seperti meneliti namun tanpa ekspresi. 
Fika segera berbalik badan dan setengah berlari menuju gerobak tukang ketoprak. Ketopraknya sudah siap. Dibayarnya sebungkus ketoprak itu, lantas ia bergegas pulang.
Dalam benaknya, ia sudah berencana untuk mengabari suaminya di kantor perihal uang belanja yang dipakainya untuk diberikan ke Bapak penjual pisang.
Sampai di rumah, Fika segera mencari telpon genggamnya. Dilihatnya jam dinding di atas televisi, ‘Masih jam sembilan. Belum istirahat, ganggu gak ya…, aku kirim pesan sajalah.’, batinnya.
‘Mas, aku tadi beli pisang.’ *terkirim*
‘Oh iya, terus kenapa. Kok tumben lapornya kepagian ?:D’, *pesan masuk*
‘Belinya seratus ribu.’ *terkirim*
‘Hah? Mahal amat? Beli berapa sisir?’. *pesan masuk*
‘Satu doang. Harganya sepuluh ribu, tadinya aku bayar lima puluh ribu. Kembalian empat puluh ribu niatnya mau aku sedekahin ke yang jual. Kasian mas,  bapak-bapak udah tua. Terus kupikir empat puluh ribu hari gini kalo ke mini market aja paling dapet apa…, akhirnya aku tuker sama seratus ribuan. Maaf ya, aku pake uang belanja buat sedekah dan baru bilang belakangan.’ *terkirim*
‘Oh gitu…., iya gak apa-apa. :)’ *pesan masuk*
‘Maaf kalau kebanyakan sedekahnya, Mas.’ *terkirim*
‘Sembilan puluh ribu terlalu murah untuk membeli surga, sayang… dan Alhamdulillah kita masih ada uang untuk nutupin kebutuhan kita. Orang lain ada yang berharap wajah Allah dengan jiwanya. Dan yang kamu kasih ke si Bapak itu sudah rejekinya si Bapak, datang melalui kamu. Allah Maha Baik ya, kita dikasih kemudahan buat beramal, pahalanya pun kalau ikhlas buat kita. Wallahu a’lam. ☺’ *pesan masuk*
Fika menghela nafas. Ya, mengapa dia cemas uang sembilan puluh ribu terlalu banyak untuk disedekahkan. Padahal itu tak cukup banyak juga kalau dibelanjakan ke pasar.

‘Jazaakallah khoyron katsir ya, Mas. Semoga Allah balas kebaikan Mas dengan yang lebih baik.’ *terkirim

‘Waiyyaki. Sama-sama…, semoga Allah membalas kebaikanmu juga. :)’ *pesan masuk*

Perut Fika kembali berbunyi, dia teringat sebungkus ketoprak yang diletakkan di atas meja makan belum lagi dibuka. Saatnya menjodohkan ketoprak tersebut dengan perutnya.

Leave a comment

Filed under Cerpen (ceritanya)

Rindu Belum Tunai

​Ada kalanya rindu menjadi tanggungan masing-masing tiap orang.
Tanggungan yang kadang merepotkan.

Repot karena tanggungan semacam ini kadang tidak bisa segera ditunaikan.
Terlebih rindu pada tempat yang sekarang tidak dipijak, pada masa lampau yang tidak dapat diputar ulang.

Maka pada rindu yang serupa itu, apalah yang dapat kau lakukan kecuali pasrah merasakan matamu menghangat dan tenggorokanmu tercekat. Perpaduan rasa yang seringnya datang bersamaan.

Maka pada rindu yang serupa itu, engkau akan berusaha menyimpannya dulu nun di satu tempat dalam hatimu. Karena memang pada kenyataannya rindu itu tidak bisa dibasuh dengan segera dan tidak dapat ditunaikan dengan sempurna.

Maka kepada siapa lagi aku serahkan rindu yang butuh pertolongan ini, 

Selain kepada Allah Yang Menguasai Masa, Yang Menguasai Segala.

Bukan tempat lahirku, bukan.

Bukan tempat aku bertumbuh, bukan.

Hanya tempat dimana kisah bermula…
Tapi rindu memang istimewa bukan?

Ia datang tak perlu banyak alasan…
Rindu aku pada satu Nagari

Dimana padi masih menari-nari…

Jakarta, 31 Oktober 2016

Foto diambil dari Wikipedia

Leave a comment

Filed under Puisi/Syair