Asisten Rumah Tangga (Tak kenal maka tak sayang, makin kenal semoga gak bikin drama)

Bagian I

BELUM PAMIT

Setiap Lebaran menjelang, biasanya sebagian ibu-ibu punya keresahan tersendiri, ‘akankah asistenku kembali setelah lebaran nanti?’.

Saya sendiri dulu gak kebayang punya pembantu. Gak tau suka dukanya. Karena tinggal sama orang tua, yang lebih concerned urusan pembantu ya ibu saya.

Dari saya kecil seringnya memang ada yang bantu di rumah. Tapi walaupun ada pembantu, ibu saya tetap ‘workaholic’. Masak, beberes, dan lain-lain. Jadi pembantu itu memang tugasnya sebagai asisten, hanya membantu. Apalagi urusan masak, tetep yang dominan ibu. Pekerjaanpun dikerjakan sesuai instruksi dan sesuai standarisasi ibu saya.

Sejak saya kecil yang bantu-bantu di rumah asalnya dari berbagai daerah. Ada yang asli Minang, Jawa, Betawi. Dulu rentang waktu mereka bekerja di rumah lumayan lama, bertahun-tahun. Kualitas kerjanyapun bisa dibilang baik. Ada sih satu dua cerita yang juga udah bikin ‘drama’ semisal mencuri atau pacaran.

Saya baru ngerasain ‘drama’ pembantu ini semenjak hamil anak pertama.
Sejak menikah, saya dan suami tinggal di rumah orang tua saya (sekarang juga masih). Seringnya hanya berdua, karena kakak saya sudah punya rumah sendiri (yang syukurnya) masih bisa dibilang dekat dengan rumah orang tua saya, kakak yang lain kerja di luar kota dan orang tua saya waktu itu lebih banyak di kampung mengurus nenek saya yang sudah sepuh.

Saya dan suami sama-sama kerja kantoran, pergi pagi-pulang malam. Setelah menikah kami tidak langsung dikaruniai anak. Hidup gaya anak kost-an lah. Dari sarapan sampai makan malam beli. Hari Sabtu dan Minggu jalan-jalan naik motor atau istirahat di rumah. Cuma berdua. Tidak ada pembantu. Rumah juga dibersihkan sekadarnya.

Satu setengah tahun kemudian -Alhamdulillah- saya hamil. Suasana rumah masih sama. Tapi ibu saya mulai memikirkan keadaan saya. Beliau kasihan lihat saya yang lagi hamil gak ada yang urus. Saya sebenarnya biasa saja, belum mikir juga untuk punya pembantu. Tapi memang nampaknya mulai butuh. Suami mulai sering dinas luar kota walau sebentar-sebentar. Orang tua seringnya di kampung. Mau ngungsi ke tempat kakak, lumayan ‘riweuh’ juga bolak-balik bawa baju dan perlengkapan sehari-hari.
Di rumah sendirian, walau pulang kerja sudah malam dan tinggal tidur lalu besoknya berangkat kerja lagi kok rasanya agak ‘horor’ juga.

Singkat cerita, akhirnya saya dibawakan seorang pembantu oleh seorang kenalan yang berprofesi sebagai supir bayaran dan saya panggil Uwak (misterius amat kesannya). Pertama kali saya lihat, saya gak yakin bakalan cocok sama si Teteh ini. Orangnya nampak pendiam, kurang bersemangat. Usianya antara 30-40.

Waktu dia datang, Bapak saya sedang di Jakarta, Ibu saya di Payakumbuh. Sehari dua ketika Teteh ini bekerja di rumah, saya tanya ke Bapak saya bagaimana pekerjaannya. Kata Bapak saya biasa-biasa saja (cenderung kurang memuaskan). ‘Ok-lah’ batin saya. Tokh dia belum lama bekerja disini.

Belum seminggu sepertinya dia kerja di rumah, pada satu pagi ketika hendak berangkat kerja si Teteh ini bilang ke saya kalau dia mau pamit pulang. Antara kaget dan kesal saya tanya, apa alasannya dia mau pulang.
“Saya belum pamit sama suami saya.” katanya dengan mimik muka ‘default’ murungnya.
“Lho? Waktu berangkat (kesini) Teteh belum pamit?”
“Belum, soalnya waktu itu suami saya di penjara.”

What???! Mata saya rasanya seperti melotot waktu itu. Di penjara??? Di penjara??!! Di penjarakkk !!!

“Terus kok gak pamit?”
“Kata Uwak berangkat aja dulu.”

Kalau gak salah inget, Si Teteh ini pamit mau pulang karena suaminya sudah keluar dari penjara.

Saya telpon si Uwak yang waktu itu mengantar si Teteh. Saya suruh jemput sambil sedikit ngomel karena istri orang kok disuruh berangkat kerja tanpa pamitan ke suaminya.

Segitu dulu ya… nanti sambung lagi ceritanya. Lanjut mau beres-beres lagi. 🙄

#ceritareceh
#asistenrumahtangga

Advertisements

Leave a comment

Filed under Ngalor Ngidul

​UWAIS TAK DAPAT MENOLAK

Aku teringat pada kisah Uwais
Seorang yang tidak dapat menolak ketenaran
Tidak memiliki harta

Tidak memiliki keahlian

Tidak memiliki kedudukan
Tapi Rasulullah berkabar tentangnya

Amirul Mukminin mencarinya
Nama Uwais sayup saja terdengar di bumi,

tapi ia mahsyur di langit
Jauh waktu berselang

Nama Uwais kini dikenal pula di bumi
Tak ada gambar diri

Tak ada jejak berupa prasasti
Tapi kisah Uwais tertanam pada kitab karena pada ibunya ia berbakti
Uwais berupaya sembunyi dari kemahsyuran

Tapi Allah ‘Azza Wa Jalla memiliki kuasa
Uwais tak dapat menolak

Namanya sudah terangkat

Leave a comment

Filed under Ngalor Ngidul

Ibu

Di antara warna warni hubungan kita,

engkau selalu terlukis sama pada akhirnya

engkau adalah rindu yang datang seketika
engkau adalah puisi sunyi dalam hati tiap-tiap jiwa yang tersisa

Ibu…
engkau adalah rindu dan puisi yang tak berkesudahan

Jakarta 13 Juli 2017

Leave a comment

Filed under Ngalor Ngidul

Tintaku kering

Aku menghela nafas pendek saja Tintaku mengering. Ringan terasa bolpoinku, kopong, melompong.

Bergeser sudah aku tanpa sadar Dulu aksara kupakai sebagai perisai Maju ia, aku di belakangnya. Tak perlu bahkan orang mengetahui wajah si empunya Tak pikir orang suka atau tidak pada ukirannya

Tintaku kering, sisa padanya kerak sedikit. Kemarin-kemarin lupa kuisi Sibuk berdandan supaya jalan ke panggung diperkenankan. Maju badan nyawa terlupa

Lempar saja pena ringan yang kosong ke sisi meja. Nanti kalau wajah sudah kembali seperti semula. Kuambil lagi ia lalu menari kembali bersamanya

Leave a comment

Filed under Ngalor Ngidul

Lebaran yang selalu begitu

Menggosok debu yang berkerak di lantai yang jarang dipijak,
Di rumah yang sudah lama didiami hingga orang yang tinggal tak lagi banyak

Rasanya serupa membuka album foto yang sudah lama

Tapi rasa yang menyerbu masuk ke dalam dada kentalnya lebih terasa
Ini hari Lebaran,

Dimana banyak orang sengaja atau tidak meraup haru dan rindu yang tak dapat digenggam erat oleh tangan
***

Leave a comment

Filed under Ngalor Ngidul

Menjelang Lebaran

Aku menengadah melihat jendela-jendela yang terang oleh cahaya matahari. 

Rumah nampak lapang dan benderang karena gorden dan karpet yang belum dipasang.
Lalu segumpal rasa nan sejuk masuk berputar dalam dadaku hingga terasa sampai pada udara yang aku hirup,

“Aku rindu padamu, Mama.”

Leave a comment

Filed under Ngalor Ngidul

Mie Aceh

Mie Aceh kesukaanku ini rasanya enak, Pa.

Biasanya aku akan semangat melahapnya.

Mie Aceh ini tetap enak rasanya, Pa.

Tapi di lidah.

Tidak di hatiku.

Mengingatmu beberapa hari ini kehilangan nafsu makan.

Hanya susu dan minuman sereal kemasan yang kau bilang ‘enak’.

Tapi aku bersyukur masih ada yang masuk ke dalam perutmu.

Aku menyantap Mie Aceh ini dengan mata yang basah dan hidung berair, Pa.

Bukan karena pedasnya, tapi memikirkanmu yang tidak berselera makan dan tubuhmu semakin kurus.

Semoga nafsu makanmu kembali lagi.

Akan kucari semampuku makanan yang engkau suka, Pa.

InsyaAllah.

Cepat sembuh, Papa.

Leave a comment

30/05/2017 · 15:14