Ternyata

Seperti yang saya lakukan setiap pagi sebelum berangkat ke kantor, saya mencari ibu untuk berpamitan, dan biasanya saya temukan ibu saya di tempat yang hampir sama, di halaman rumah sedang menyapu.

Seperti yang dipesankan ibu setiap pagi juga sebelum saya berangkat ke kantor, bahwa saya harus berhati hati, terutama ketika menyeberang jalan raya di depan rumah, karena memang di jalan yang ibu maksud sering terjadi kecelakaan.
Tapi ‘hati-hati’ yang dipesankan ibu pagi ini bertambah.
“Hati-hati, ada orang gila…” ujar ibu pelan, saya mengikuti arah mata ibu.
Orang gila itu memang tetangga kami, bukan tetangga dekat, tapi masih satu blok dengan kami.
Sebelum saya tahu dia masih tetangga saya, saya sering melihatnya di halte ujung jalan. Di pertemuan jalan raya Pondok Kelapa dan jalan Kalimalang (halte Lampiri). Pernah sekali waktu ketika saya dan seorang ibu turun dari mikrolet di halte Lampiri tersebut orang gila itu sedang mengamuk, tidak hebat, tapi cukup membuat saya dan ibu tersebut berjalan bergegas hingga sedikit terbirit-birit karena ketakutan.

Pagi ini dia melintas di depan rumah kami menuju portal di depan blok, saya sedikit takut, takut kalau dia mengamuk tiba-tiba, karena saya juga harus melalui jalan yang sama dan mau tidak mau akan berdiri dalam jarak yang dekat kalau dia belum beranjak juga dari tempatnya berdiri di ujung jalan blok kami.
“Duh takut…”, kata saya.
“Bilang saja begini ‘nanti gue bilangin sama emak lu!”, begitu pesan ibu yang menangkap ketakutan saya.
“Memang kenapa ibunya?”, saya heran karena saya pikir orang gila itu sudah cukup tua untuk diancam seperti yang ibu saya contohkan, terlalu tua malah, karena perkiraan saya umurnya sudah sekitar 50 tahun lebih.
“Dia takut sama ibunya”, jawab ibu saya singkat. Saya tercenung.
Saya mengulangi pamit pada ibu dan berjalan menuju ujung blok kami, saya lihat orang gila itu berjalan menjauh ke arah yang berbeda dengan tujuan saya, dari jauh saya melihatnya dengan sedikit iba dan haru.

Saya teringat film Nagabonar. Tokoh Nagabonar yang sangat sayang pada ibu nya dan takut sekali jika ibu nya marah. Mungkin orang gila ini sama dengan Nagabonar, pikir saya, walau sudah beranjak tua, ibu masih menjadi sosok yang sangat dihormati, istimewanya lagi dibandingkan dengan Nagabonar: orang ini gila!, tapi dia tidak lupa harus menghormati ibu nya (rasa takut pada kemarahan ibu menurut saya bisa jadi patokan).

Selama saya di mikrolet dan berganti bis hingga saya menulis tulisan ini, saya belum bisa menghapus kakagetan saya akan berita yang ibu saya sampaikan : orang gila itu takut sama ibunya!, dan saya sangat menghargai ini.
Bukan sosok Ayah dikesampingkan sehingga Ayah menjadi kurang nilainya, bagaimanapun orang tua yang disebut Ayah atau Bapak atau Papa atau panggilan lainnya punya tempat tersendiri di hati saya. Tapi memang perempuan punya keistimewaan luar biasa, terutama melihat perannya dalam rumah tangga.

Bukan perkara mudah menjadi ibu rumah tangga. Bangun pagi, menyiapkan semua kebutuhan anggota keluarga, mendidik anak, dan berjuta juta tugas lainnya yang harus dikerjakan setiap hari, tidak berkesudahan seperti jam kerja kantor, tidak digaji seperti pegawai kantoran, namun tanggung jawab dan tenaga yang diperlukan sangat teramat jauh lebih besar. Dan energi terbesar sebagai sumber kekuatan untuk mengerjakan segala tugas tersebut menurut pengamatan saya (mengandalkan ingatan dalam 28 tahun hidup saya) adalah kasih sayang dan keikhlasan.

Bukan perkara sepele kedua hal tersebut, persediaan kasih sayang dan keikhlasan harus selalu ada dan tidak boleh habis, tanpa diminta!. Misalkan dalam hal memasak, memasak saja tidak gampang buat saya (karena saya memang tidak bisa memasak), apalagi memasak dengan bermodalkan kasih sayang dan keikhlasan!. Itu dalam hal memasak, belum yang lain-lain!

Pernah saya berharap bekas infus di tangan saya, karena diopname di rumah sakit beberapa bulan lalu jangan hilang, supaya saya ingat bagaimana ketika saya sakit ibu merawat dan menunggui saya siang dan malam, supaya saya ingat…

Saya beberapa kali bertanya, bisakah saya seperti ibu kelak? Mengurus segala urusan rumah tangga, merawat dan memperhatikan kebutuhan suami dan anak-anaknya dari ujung kepala hingga ujung kaki, dari kulit terluar sampai ke dalam hati, waspada dan lekas tanggap jika ada dari kami menderita karena sakit yang ringan sekalipun atau sampai harus menginap di rumah sakit. Semua tenaga dan pikiran tercurah ke segala arah dengan jatah waktu yang sama, satu hari 24 jam. Tidak hanya memikirkan keluarga inti tapi juga membagi perhatian pada nenek saya dan sanak saudara yang sudah menyebar tempat tinggalnya.

Betapa kuatnya ibu saya, sangat teramat kuat dan perkasa. Pasti ada masanya dia lelah dan tertekan karena banyak hal yang harus dihadapi dan diselesaikan, tapi sampai sekarang persediaan kasih sayangnya tidak habis. Alhamdulillah.

Beberapa kali saya mengobrol ringan dengan teman-teman dimana topik pembicaraan bergeser menuju: seberapa besarkah kami memperhatikan orang tua kami? tahukah kami kesenangan mereka? kekhawatiran mereka? mengertikah kami akan maksud mereka (kadang -seringnya- anak yang minta dimengerti oleh orang tua), biasanya pembicaraan ini akan berujung dengan diam dan mata yang berkaca-kaca (apalagi perempuan), terutama saya yang menyimpan tanya ‘sudahkah saya membuat orang tua saya bahagia?’, tapi jawabannya sudah pasti buat saya ‘belum…’.

Orang gila itu… siapa namanya? Siapapun dia, bagaimana pun dia pernah membuat orang-orang sebal, marah dan ketakutan, saya hormati rasa hormatnya pada ibu.

( Jakarta 27-28 November 2008 )

*sudah diedit ulang*

Advertisements

10 Comments

Filed under Ngalor Ngidul

10 responses to “Ternyata

  1. huhhuhuhu, cerita soal “ibu” memang ga akan ada habisnya. tulisan yang bagus, tri… 😀

  2. utine

    hiks hiks hiks….makanya bo, cepetan kawin.. hehehe

  3. tanti

    haaaa…bobby. u did it again, u brought the most sensitive theme today … tears dropped….huhuhu (apa emang gw yg cengeng yah, huehue)

  4. eka

    ibu memang begitu, selalu mengingatkan utk berhati2 krn semua itu asalnya pun dari hati.
    untuk menjadi ibu yg demikian tria hanya butuh hati. hati yg bgmn, itu urusan masing2.
    berhati2lah org gila yg takut kpd ibunya dan lebih berhati2lah lagi kpd org waras yg sadar dan suka mengakali ibunya (hati ibunya) demi kepentingannya sendiri.
    hati-hati ya..

  5. Obey

    Kasih ibu sepanjang jalan tuh beneran yes heuheu lo dah siap jadi ibu bobz huhuy

  6. achi

    anggeur… teteup yang keinget lagu LED ZEPPELIN ; D
    ayo ceu, sekali-sekali posting ttg lope2…. pengen tau jadinya kaya apa.
    cinta dari sudut pandang Trianifa Febria. uhuy ! seru kayanya …..

  7. atoq

    orang gila di sekitar rumahku nambah satu juga, bo! Katanya dulu dia mahasiswa FSRD ITB dan dia disenangi anak2, karena jago gambar. Kalo aku ketemu dia dan kebetulan aku sedang merokok, aku kasi dia rokokku itu. Soalnya kasian, pernah waktu liat dia nemu puntung rokok dan terlihat bingung, mungkin lg mikir gimana nyalainnya. Mau minjem api ke orang, belum ngomong minjem, orangnya udah pada lari duluan…

  8. yang ini juga aku suka. ich wußte ja seit damals, dass du immer gut und schön schreiben kannst. btw, puisinya dong…yang suka menohok itu 😉

  9. rima

    huhu…ima mah pernah ditampol org gila di jln jakarta, bandung. meni sakitnya ampun…pengen nangis tapi malu da di pinggir jalan raya…
    tapi soal ibu…hehe bener banget bob…lagi berusaha juga nih biar jadi istri sekaligus ibu yg istimewa…:P

  10. trianifa

    Wihihihi, sama Ma, gue juga waktu SMU dan awal tahun ini pernah digebuk orang gila Ma, terus ditongkrongin orang gila pas lagi makan sate di pinggir jalan juga pernah, emang malu nya yang paling gede, hihihihi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s