Gejolak Kawula Muda

KBBI

Sudah hampir tiga tahun, setiap hari rute yang saya lewati antara rumah ke kantor, kantor ke rumah, ya itu itu saja. Kalimalang-Cawang-Slipi, Slipi-Cawang-Kalimalang. Angkotnya pun ya itu itu juga setiap hari, mikrolet 29 (jurusan Klender-Cililitan) kemudian beralih ke Patas no. 6 ( bis Mayasari Bakti yang terkenal jurusan Kampung Rambutan – Grogol). Pulang pun demikian P6-M29,saya termasuk beruntung untuk kantor yang jaraknya jauh dari rumah, ganti angkutan hanya satu kali.

Hanya sesekali saya harus berganti angkot lebih dari sekali, misalkan waktu M29 hanya ‘narik’ sampai Lampiri (persimpangan Jl. Pondok Kelapa dan Kalimalang) karena penumpangnya sedikit dan lebih-lebih dengan rute ke cililitan yang panjang dan macet membuat supir ‘ogah’. Karena macet ini pula terkadang saya memutuskan naik ojek (sekali naik taksi, tapi deg deg an di jalan dan mata saya susah lepas dari argo, maklum dompet isi nya receh semua, he he).

Hampir setiap pagi juga saya melihat pemandangan yang itu-itu saja, macet di jalanan, orang-orang yang tidur di angkot, orang-orang yang membaca buku atau novel, mendengarkan mp3 atau sibuk dengan handphone nya, pokoknya sebisa mungkin membuat nyaman diri sendiri dalam perjalanan masing-masing.

Bukan maksud saya menguping pembicaraan orang sebagai alternatif mengisi waktu di jalan, tapi di dalam mikrolet yang besarnya tidak seberapa itu mengkondisikan penumpang dapat mendengar pembicaraan orang lain yang sedang bercakap-cakap (alasan banget ya, hihihi). Kadang pembicaraan tersebut mengganggu, tapi saya juga harus akui memang ada pembicaraan yang menarik perhatian saya (ketauan deh suka ngupingnya, he he).

Suatu pagi dalam perjalanan ke kantor di Mikrolet no.29 menuju Cawang, penumpang di angkot termasuk saya mulai pasrah dengan macet. Seingat saya hari itu juga hujan. Saya mengisi waktu dengan berusaha menyelesaikan membaca sebuah novel. Ada dua pelajar SMU perempuan di dalam angkot yang saya tumpangi. Mereka berdua bercakap-cakap, dan seperti biasa percakapan anak sekolah yang selama ini saya dengar topiknya antara lain seputar pelajaran sekolah (jarang dibicarakan), teman sekolah (cukup sering dibicarakan), dan cowok-cowok ganteng di sekolah (biasanya jadi topik paling hangat).

Saya reka saja nama kedua pelajar itu, karena tidak ada alasan tepat untuk berkenalan dengan mereka dan saya tidak terpikir untuk mencari apakah mereka memakai bet nama atau tidak.

Ayu : “Lu liat gak si Dimas kemarin (nama pelajar pria ini juga saya karang)?”
Tini: “Kenapa emang?”

Ayu : “Kemaren dia pakai topi, SADIS! Cute banget!”

Sontak saya yang sedang membaca novel jadi menoleh ke arah mereka dan berusaha menahan geli sekuat mungkin.

SADIS! sebuah kata yang sepengetahuan saya identik dengan kekerasan, dan menurut KBBI (http://pusatbahasa.diknas.go.id/kbbi/index.php), sadis bermakna:
sa·dis 1 a tidak mengenal belas kasihan; kejam; buas; ganas; kasar: dng — mereka menghukum tawanannya; 2 n orang yg sadis;ke·sa·dis·an n sadisme

Bagaimana ini? Sekarang kata ‘sadis’ malah dipakai untuk mengekspresikan sesuatu yang membuat seseorang menjadi sangat terkagum-kagum.
Saya paham maksud anak itu ‘sadis! cute banget’, berarti si cowok ganteng itu menjadi sangat guanteng dengan memakai topi, sadis guantengnya, minta ampun mungkin gantengnya, ganteng sekali lah yaw!.

Saya masih sangat geli ketika dua pelajar tersebut melanjutkan bercakap-cakap, kemudian si ‘Ayu’ yang menggunakan kata sadis tadi menelpon dengan telpon gengggamnya,
Ayu: “Dimana lo? Haaaa masih di rumaaaah? sadis!”

Oh kata itu keluar lagi! Saya mau tidak mau menyungging senyum yang sebenarnya ingin tertawa terbahak-bahak. Mungkin kalimat terakhir untuk menunjukkan betapa terkejutnya dia mendengar temannya masih di rumah saat hari sudah siang dan jalanan macet. Jam berapa si ‘teman’ ini akan tiba di sekolah? sadis! (bisa jadi kata ‘sadis’ ini muncul karena hukuman yang ditimpakan pada siswa yang terlambat bersifat sadis? ah ‘lebay’ sekali ya saya ini).

Saya jadi mengingat-ingat, kata-kata apa yang pernah saya pakai tapi menyimpang dari maknanya ya? Sepertinya kata ‘sadis’ ini juga pernah saya gunakan seperti si ‘Ayu’ ini ketika jaman SMU dahulu kala.

Kalau menyatakan terkagum-kagum pada sesuatu yang indah bisa menggunakan kata sadis, bagaimana kalau kata manis atau cute dicoba untung mengungkapkan sesuatu yang kejam, misal: peristiwa genosida itu cute ya, manis sekali, imut banget!’. Maksa betul saya ini, hihihi.

Mungkin ini salah satu yang dinamakan gejolak kawula muda, ekspresif sekali dalam mengungkapkan pendapat dan perasaannya, sampai-sampai harus menukar-nukar makna sebuah kata. Atau memang perbendaharaan kata kita yang kurang, sehingga susah menemukan kata yang tepat untuk berekspresi sampai pol (pol ini datang darimana pula? he he he).

Advertisements

16 Comments

Filed under Ngalor Ngidul

16 responses to “Gejolak Kawula Muda

  1. miyooouwh..

    😀 cowo depan gw (coach si tantimrantii,red) juga seriing banget pake kata itu
    –> “SADISS” for evry-single thin’yg bikin dia takjupp..SADIIISSS 😀 anak jaman kini!!! satu lagi yg sering dia pake “KEPOO” –> lbh dari 5 bulan gw sering denger kata ini,I stil cant figure out the meaning :p ma’luuuum anak jaman kuno!!! tau ga lu artinya “KEPO”??

  2. trianifa

    hahahaha, gue juga gak tau jeng! Kosa kata baru nih, coba dicari tau artinya ya, siapa tau bisa kita pergunakeun.

  3. sadis! obrolan di mikrolet dibawa2 ke blog… 🙂

  4. trianifa

    Buahahahahaha, bisa aaaan bang Insaaan.

  5. hfransisca

    lah Bob, kan bahasa termasuk budaya, dan bahasa itu selalu berkembang…kira2 itulah yg dikatakan oleh Pak Susudara…Susudara…itu lho kuliah di B aula…

  6. trianifa

    Hihihih, betul Na! Cuma kaget aja udah lama gak denger yang gantengnya sadis! hahahaha

  7. Obey

    Jaman kita bukan ganteng sadis,tapi ganteng maut bobz wakakak

  8. trianifa

    iya ya, gue baru inget, gak banget! Haha

  9. ah lecid….

    *coba cari di KBBI, apa artinya

  10. trianifa

    Nemu! (bukan dari KBBI pastinya : lecit itu, bau asem + keringet + kuetek org yg blom mandi sharian… dah bisa dibayangin baunya gimana??—> http://72.14.235.132/search?q=cache:DkVMSwh9fnQJ:forum.kafegaul.com/archive/index.php/t-70561-p-4.html+lecit%2Bjawa&cd=3&hl=id&ct=clnk&gl=id). Kalo ‘lecid’ itu artinya harus ditunjukkan secara visual juga jok: sandingan antara seprai lu di WIRA plus elu nya = lecid! Make D ya :p

  11. qnoy

    kapan niy mba tria saya bisa baca tulisan mba yang sadis lagi?

    hehe, novel horor kaleee…

    eh kabo, niy bakal berhasil ga yah comment gw. secara ini pertama kalinya gw kasih komen ke blog org.
    eh, sebenarnya ini blog ato personal web?
    trus apa bedanya?

    wahhhh, sadis lu kabo kalo ga memberi diriku pencerahan,hehe.

  12. trianifa

    @ qnoy: Huahaha, sakses Noy! Makasih ya!

  13. karbith

    neng aku baca lagi tulisan kamu ini
    SADDDIIIISSS….. BUANGETTTTHHH
    aku ketawa ketiwi sendiri ngebayangin mimik muka mereka

  14. trianifa

    @ Karbith : gak baca yang ‘perfect day’? ketawa juga gak? hihihihi

  15. Hahaha….Sadis!

  16. Tria

    Aku juga geli pas baca lagi, mba. 😂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s