Sang Orator

​Siang hari terik. Di satu titik di Jakarta, ramai kerumunan riuh memenuhi halaman sebuah gedung berpagar tinggi yang dijaga ketat para polisi.
Seorang pemuda dengan jas almamater kebanggaannya berdiri dengan toa di tangan, menyapu pandangan kepada orang-orang di depannya.
Suaranya naik turun, panjang isi kalimatnya, bagus pilihan katanya. Pandai ia menyusun nada bicaranya.

Sesekali orasinya disambut teriakan penuh semangat dari kawan-kawannya, sesekali ia mendapat tepuk tangan bergemuruh.
Suasana panas, sepanas rentetan kata sang orator. Dinding-dinding gedung penuh dengan spanduk dan coretan penuh tuntutan.
Seorang laki-laki berkulit gelap paruh baya dengan tegap dan gagah meringsek maju di dalam kerumunan. Sebelum sampai di baris depan, ia berhenti, menatap tajam pada sang orator yang masih berapi-api penuh semangat menyampaikan kata-katanya.
Ketika sang orator mengambil nafas sambil berfikir untuk menyusun sebuah kalimat baru, tiba-tiba tenggorokannya tercekat, mulutnya terasa kering, matanya tertumbuk pada sosok laki-laki paruh baya tersebut.
Ia berhenti berorasi, memberikan toa pada teman di sebelahnya dengan pesan terburu-buru.

Dengan agak tergagap, temannya berusaha meneruskan orasinya.

Sang orator yang semula berdiri di depan, berjalan meringsek ke dalam kerumunan mengikuti punggung laki-laki tegap itu yang sudah berbalik badan dan berjalan duluan.
Mereka berjalan dalam diam menuju pinggir kerumunan dan menjauh, berdiri di bawah sebuah pohon.
“Bapak…”, sang orator berusaha mengeluarkan suaranya. 

“Pulang.”, tegas laki-laki yang dipanggil bapak tersebut.

Pemuda itu terdiam, bingung.

“P u l a n g!”, dengan suara pelan tapi lebih tegas, bapaknya mengulang.
“Aku sama teman-teman sedang membela rakyat kecil, Pak. Memperjuangkan nasib rakyat kecil.”, dia mulai mendapatkan suaranya kembali.

“Rakyat kecil mana maksudmu?”

“Semua orang miskin, Pak. Kayak kita ini.”

“Supaya apa?”

“Supaya bisa lebih hidup sejahtera, Pak.”

“Sejahtera bagimana?”

“Bisa hidup lebih layak.”

Bapaknya menarik napas panjang, kalau sudah begitu biasanya si pemuda menahan napasnya, bersiap menerima ceramah yang panjang.

“Pertama, kalau kamu bilang kita miskin. Bapak menolak. Kita tidak miskin. Kita cukup. Makan cukup, tempat tinggal ada, semua kebutuhan tercukupi. Walau mungkin kita harus lebih peres keringet, peres perasaan. Dan kamu ini bisa kuliah, bersyukur. Kamu bisa kuliah. Jadi jangan bilang kita miskin!.

Kedua, kalau kamu sama temen-temen kamu bilang sedang membela rakyat kecil, justru saat ini kamu sama temen-temen kamu bikin kesel ati bapak! Kamu lupa? Sebelum jadi supir, Bapak jadi kuli! Termasuk pernah jadi kuli buat gedung ini! Gedung yang kamu sama temen-temenmu coret ini!. Biar cuma jadi kulinya, bapak seneng tiap lewat sini, liat gedung ini masih mentereng.”
Pemuda itu menelan ludahnya.
“Dan yang bikin bapak kecewa, kamu melakukan sesuatu tidak pada tempatnya. Kamu ijin dari rumah mau berangkat kuliah, kamu sudah bohong.

Dan itu sangat mengecewakan. Kamu pikir negara ini bisa maju dari mulut yang suka bohong? Bapak nguliahin kamu supaya jadi orang, bisa ngasih manfaat buat negeri ini dari tanganmu, dari ilmumu, gak cuma dari mulut pedesmu kayak barusan!”

Pemuda itu makin terdiam.
Ada bunyi terdengar dari saku baju laki-laki itu, lalu tangannya mengambil sebuah ponsel tua . 

“Adekmu sms, wawancara kerjanya gagal, karena telat datang. Katanya karena ada demo di jalan ini.”, Bapaknya melirik, menyampaikan isi pesan singkat yang membuat lidah si pemuda itu makin kelu.
“Bapak minta kamu bereskan urusanmu disini, terus pulang. Bantu ibuk di rumah.”
Pemuda itu menghela nafas.
“Skripsimu cepat selesaikan. Kamu sudah keduluan adekmu.  Bapak ngarep kamu jadi orang pinter, banyak do’a, keras kerjanya.”, lanjut bapaknya.
Laki-laki tegap paruh baya itu merogoh sakunya, dengan cepat dan sembunyi-sembunyi diselipkannya beberapa puluh ribu ke saku anaknya.

“Buat minum, mestik haus habis banyak ngomong. Sudah, bapak mau kerja lagi.”

Pemuda itu menatap punggung bapaknya yang bergegas pergi, dari jauh dia lihat bapaknya masuk dan duduk di belakang kemudi sebuah angkot.
Bapaknya melambai, sambil menggerakkan mulutnya mengucap kata ‘pulang’.

Advertisements

2 Comments

14/09/2016 · 14:06

2 responses to “Sang Orator

  1. Sukaaaaaa banget sama tulisan ini

  2. Tria

    Makasih banyak mba Ira. Semoga menghibur dan bermanfaat. 😙

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s