Kojek

Namanya Gopal. Tapi dia bukan orang India. Entah kenapa ia dinamai dengan nama tersebut.

Perawakannya besar, sehari-hari mengenakan kaos, celana dan jaket jeans yang sudah pudar warnanya bukan karena trend. Pudar karena sudah lama dipakai sebab itu saja yang dia punya.

Gopal biasa jalan mondar-mandir dari gang satu ke gang yang lain. Sering dia palak anak-anak yang pulang sekolah. Kadang Gopal minta sepatu yang mereka pakai. Jadilah mereka bertelanjang kaki pulang sekolah.
Hanya satu dua anak yang berani mengadu pada orang tua mereka.
Sudah tiga kali Gopal ditegur RW setempat, termasuk Pak Haji Jamin bahkan diadukan ke Polisi. Tetap dia tidak merubah kegemarannya memalak anak sekolah.
Di hadapan anak-anak sekolah, Gopal merasa dia yang paling kuat, paling ditakuti.

Kebanyakan anak-anak sekolah yang sudah melihat Gopal dari jauh akan berbalik arah dan mencari jalan yang lain.

Namanya Efendi, tapi orang banyak memanggilnya ‘Pendi’. Bocah kelas lima sekolah dasar berkulit gelap dan kurus ini satu hari berjalan riang pulang dari sekolah. Terik matahari agak terlupakan olehnya disebabkan riangnya hati. Hati yang riang karena membawa sebuah kotak berisi sepatu baru. Hasil dari memecahkan celengan ayamnya.
Sepulang sekolah ia pergi ke pasar yang tak jauh jaraknya.
Tak lama sepatu baru sudah bisa didekapnya.
Sisa uang dari celengan ia belikan sedikit untuk dua permen kojek. Satu untuknya, satu untuk adiknya.

Tak hanya terik matahari yang agak terlupakan oleh Pendi. Dia juga lupa ada Gopal yang biasa mondar mandir di sudut jalan dekat pasar.

Riang langkah Pendi terhenti dihadang besarnya tubuh Gopal
“Bawa apa lu?”, Gopal menilik kotak yang dibawa Pendi.
Jantung Pendi berdegup kencang, “Bukan apa-apa, bang…”
“Sini coba gue liat!”.
Tangan Gopal serta merta mengambil kotak yang ada di tangan Pendi.
Lemas sudah kaki Pendi. Hilang harapannya bisa memakai sepatu baru esok ke sekolah.
“Jangan, bang. Kekecilan juga buat abang.”, kering terasa di mulut Pendi.
“Bisa gue duitin! Mana duit lu? Keluarin isi saku!”
Saking senangnya tadi, Pendi tidak menyimpan uang kembalian dari toko sepatu dengan rapi. Dua lembar uang sepuluh ribu dan dua permen kojek mengintip dari balik saku baju seragamnya.
Perlahan Pendi serahkan uangnya pada Gopal. 
“Itu apaan?”
“Yang mana, bang?”, Pendi bingung, apalagi yang Gopal cari dari dirinya.
“Ituuuu, di saku lu!”
“Kojek ini, bang.”
“Siniin!”
Pendi sedikit ternganga. Permen kojek murah pun dimintai oleh Gopal. 
“Buat adik saya, bang…”
“Siniin ah!”, ketus Gopal.
“Satu aja, bang. Satu buat adik saya.”, suara Pendi mulai terdengar sedikit kesal.
“Ya udah cepetan!”
Dengan muka sebal Pendi memberikan satu permen kojeknya pada Gopal. 
“Dah sana pulang lu!”, ujar Gopal ringan sambil membuka permen kojek yang dia sita dari Pendi.

Pendi berjalan perlahan dengan perasaan pedih melihat pada kotak sepatunya. Matanya mulai terasa panas.
“Udah pulang sana!”, tegas Gopal sambil menikmati permen kojek sambil sesekali digigitnya.

Pendi berusaha memalingkan muka, kembali berjalan menuju pulang. Belum lima langkah, terdengar suara mengaduh kencang. Suara Gopal.
Pendi membalikkan badan dengan cepat.
Dilihatnya Gopal berjongkok sambil memegang pipinya.
“Aduh gigi gueeee!”, erang Gopal lirih. Dia lupa dengan lubang di gigi gerahamnya. Permen kojek yang dikunyahnya memberi hadiah rasa ngilu yang aduhai dan lebih baik tak kau rasakan.

Demi melihat kotak sepatu dari tangan Gopal terlepas, Pendi berlari dan mengambilnya dengan cepat. Hatinya masih kesal pada Gopal. 
Mata Pendi menangkap sebilah kayu ukuran sedang, diambilnya kayu tersebut dan dihantamkannya kuat-kuat ke drum kosong yang besar di belakang Gopal. Lalu ia berlari meninggalkan Gopal yang masih kesakitan sambil memegang pipinya.

Gopal menganga tak bersuara. Sakit giginya makin terasa nikmat saat suara drum kosong itu bergaung kencang dari belakang.

Air mata Gopal muncul di sudut matanya.  Sayup adzan ashar mulai berkumandang.
Dalam hati Gopal berkata, “Gue gak nyangka, badan segede gini, tenaga sekuat ini, ternyata bisa gak bisa apa-apa cuma karena sakit gigi. Ya Allah, ampun…”.
Gopal bersandar pada drum kosong di belakangnya. Titik air yang semula menggantung di ujung mata perlahan mengalir ke pipi, melewati bagian luar giginya yang ngilu sangat. Nyut… nyut… nyut…

*pic taken from: google (pelangilollicandy.com)

Advertisements

Leave a comment

Filed under Cerpen (ceritanya)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s