Teman Baik

Setelah ‘up and down’ selama kurang lebih dua bulan mendampingi anak laki-laki semata wayang saya ke dan di sekolah, saya memutuskan untuk menghentikan dulu sekolahnya di Taman Kanak-Kanak.

Melihat anak saya belum berminat ke sekolah dan hampir sama sekali tidak mau masuk ke dalam kelas.

Keputusan ini tentunya saya ambil dengan berbagai pertimbangan dan sudah lebih dulu diskusi dengan suami saya.

Suami setuju, kemudian saya ngobrol dengan Bu Guru. Selesai.

Saya lalu mengabarkan teman sekaligus tetangga dan orang tua murid dari teman sekelas anak saya lewat Whatsapp.
Percakapan saya kutip tidak sama persis (lupa di copas hehehe):

Saya: ‘Ali jadi cuti ya, bu.’
Teman: ‘Oh jadi? Eh abahnya setuju?’

Saya: ‘Setuju.’

Teman: ‘Oh syukurlah. Ada lho suami yang bilang -ah elu aja yang gak mau susah- #bukan bojoku.’

Saya: ‘Waduh. Kalo kayak gitu mah suruh giliran ajaaa.’

Teman: ‘Hahahahaha.’
Lalu saya ceritakan percakapan ini ke suami saya. Dan saya tanya ke beliau apa ada prasangka bahwa saya gak mau susah-susah bujuk anak buat sekolah.

Dan jawab suami, “Waduh, aku mah tau diri aja. Bisa bantu juga nggak.”.

Dalam hati saya senyum-senyum sambil berusaha yakin kalimat itu dikeluarkan tanpa tekanan, hahahaha.
Saya bilang ke suami, kalau dia sebenarnyapun sudah berusaha bantu saya ketika beliau bisa. Mulai dari membangunkan anak, memandikan, nyuapin, ngajak main.

Lalu saya kemudian berpikir sendiri. Beruntung ya saya punya suami yang sabar dan pengertian.

Kalau diingat-ingat. Suami saya hampir gak pernah marah. Gak nuntut rumah harus rapih atau makanan harus masak sendiri dan harus enak (nuntut sih nggak, cuma jadi agak suka penasaran kalau lagi makan masakan saya kok suka diem aja, masih bisa diterima apa nggak ya rasanya πŸ˜‚).

Pulang ke rumah larut malam kadang masih harus denger curhatan saya dengan mata yang gak bisa bohong ‘udah ngantuk banget’, ini pun disambi main sama anak yang antusias pas liat bapaknya pulang.

Saat akhir pekan yang mungkin pengen jadi ‘sleeping handsome’ sebelum bertemu dengan hari Senin, seringnya juga diisi dengan meng- ‘entertain’ anak dan istri jalan-jalan.

Pun begitu masih saja saya menuntut ini itu dari suami. Kalau dengerin curhat yang seriuslah, inisiatif untuk melakukan ini itu lah. Manyun Β kalau dia habis makan gak cuci piring, sebel kalau liat jemuran handuk mencong atau bahkan lupa jemur handuk karena buru-buru, dan banyak lagi protes-protes lainnya yang disampaikan dengan gak liat sikon beliau.
Dan suami juga dituntut harus selalu pengertian sama kesibukan dan duka lara saya sebagai ibu rumah tangga yang sibuk main hp ini (lho? πŸ˜‚).

Satu waktu saya pernah ada urusan keluar rumah, kebetulan urusannya dekat dengan kantor suami. Selesai dari urusan tersebut saya ditawari suami untuk dijemput karena berbarengan juga dengan jam suami pulang kantor.
Asyiknya sore itu boncengan motor berdua lagi untuk jarak yang cukup jauh. Sudah lama kami gak boncengan berdua sejak saya memutuskan berhenti kerja.

Saat itu saya baru tersadar kembali. Betapa macetnya Jakarta saat jam pulang kantor, selain lupa karena jarang keluar rumah, saat bekerja dulu saya juga lebih memilih pulang lewat waktu Maghrib demi menghindari macet dan lebih tenang kalau sholat Maghrib dulu di kantor daripada harus berhenti dulu di jalan dan tergopoh-gopoh sholat Maghrib.

Saya membayangkan rutinitas suami. Pagi hari yang mungkin rasanya belum puas tidur karena pulang larut, sudah harus berangkat lagi. Sebagian energi sudah terpakai di jalan untuk menghadapi macet dan jarak yang lumayan antara rumah dan kantor. Sampai di kantor harus menghadapi pekerjaan yang bisa jadi membosankan, kadang melelahkan, kadang juga penuh kejutan (misal: diomelin atasan). Lalu saat pulang kantor, kembali harus menghadapi kemacetan Jakarta dan jarak yang jauh yang harus ditempuh untuk kembali kw rumah. Di atas motor harus melawan lelah, wajah berdebu dan berminyak (untuk ini saya juga agak pengalaman) dan apabila hujan deras harus berteduh dulu.
Ada sedikit perasaan bersalah dalam hati saya (kok cuma sedikiiiit? Gimana siiiik.). Sudahlah dia menghadapi hari yang melelahkan, sampai di rumah kadang disambut pula dengan wajah asem saya (Ya Allah 😭).

Sering saya meminta perhatian dari suami, merasa cuma saya yang capek di dunia ini. Lupa kalau dia juga baru saja mengalami berbagai kesibukan. Tidak peka, mungkin dia juga pengen curhat tapi keduluan sama cerita saya yang keluar lancar bener kayak narasi drama lima babak.

Dipikir-pikir lagi, makin kecil kesalahan suami, kenapa saya makin menuntut dia untuk jadi sempurna.

Hanya karena suami kurang rapih naro barang, habis makan gak cuci piring, lupa buang sampah. Saya suka bereaksi seolah dia habis dadag-dadag- an sama perempuan cakep (badut Chiki kali dadag-dadag).

Padahal kalau saya bilang baik-baik maunya saya bagaimana, mungkin lebih efektif dan dia lebih ngerti ketimbang saya harus menyampaikan ala-ala sinetron ‘Aku capek! Aku capek ngasi tau kamoh kalau jemur anduk itu harus lurus, jangan ada kemiringan walau tiga derajat!’ (ini boong, dialognya gak kayak ginilah. Kalau iya takut dibales dengan naro anduk di muka saya sambil bilang ‘lu aja jemur sendiri sono’.)

Kalau dibandingkan dengan cerita-cerita yang saya dengar; mulai dari suami yang kawin lagi diam-diam (Na’udzubillahimindzalik), yang suka ngomong kasar, yang ogah ngasuh anak, yang pelit. Maka hidup saya rasanya jauh lebih luas dan lapang. Tapi kenapa saya kadang tarik urat menuntut suami meningkatkan performanya lagi (duuuh, kamana atuh ‘performa’).
Padahal suami mungkin lebih banyak berlapang dada dengan masakan saya yang rasanya ‘harap maklum’, pemandangan rumah (dan istri) yang berantakan saat pulang kantor, kamar mandi yang belum sempat dibersihkan, dan lain sebagainya (jangan disebutin semua atuh, malulah 😁).

Suami saya ini memang teman baik saya dari jaman kami masih kuliah di fakultas yang sama sampai sekarang. Dia yang sabar mendengarkan curhat saya, yang mau susah-susah menuhin kebutuhan saya walau untuk sekedar jalan-jalan naik motor keliling-keliling buat melepas jenuh. Termasuk ijin masuk kantor setengah hari untuk nyoba nemenin anak di sekolah dan mengantar saya bila ada keperluan.
Dia juga berusaha menutup mata dan telinga rapat-rapat terhadap kekurangan saya.

Dia selalu mendukung untuk hal-hal yang dianggap positif buat saya dan anak, termasuk ketika saya memutuskan untuk menghentikan dulu sekolah anak kami. Dia yang menenangkan saya untuk tidak terlalu mengkhawatirkan banyak hal termasuk omongan orang.

Gak ada suami yang sempurna ya, sama halnya tidak ada istri yang sempurna ( dan saya perlu kaca yang gede ini kayaknya).
Tapi semoga Allah Subhanahu Wa Ta’ala memperbaiki kami supaya bisa hidup bersama saling dukung (agak berat juga mengingat timbangan kami yang sudah naik #eh).

Semoga saya bisa jadi teman baiknya yang lebih oke lagi.

Dan semoga persahabatan kami langgeng selamanya.

Allahumma aamiin.

Advertisements

6 Comments

Filed under Ngalor Ngidul

6 responses to “Teman Baik

  1. Aamiin ya Allah…. insyaallah ya Neng Tria

  2. Tria

    In Sya Allah mba Ira. Do’a yang sama buat mba Ira & pak suami beserta keluarga ya. 😍

  3. Kakaaak…aduh, maap…tapi aku ngikik2 sampe berurai air mata ini bacanyaa..mengingat jaman keliyan pacaran dulu, lalu baca ini aduh duh duh…kangen sekaliiii :’) Semoga selalu jadi teman baik dunia akhirat, Aamiin

  4. Tria

    Alhamdulillah justru kalau menghiburmu, dek. πŸ˜™πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚
    Allahumma aamiin. Aku juga kangen. Pengen ngeliat kamu ngedosen. Sungguh.
    *bilang aja mau ikut kuliah gratis. 😍

  5. Sandra

    Aamiin ^^
    Jd ingett…..ama gw sndiri πŸ˜‚πŸ˜‚ *malu πŸ˜…

  6. Tria

    Hihihi. Tapi kayaknya jauh lebih ngeselin akyu mba san. πŸ˜‚
    Makasih udah mau mampir ya mba. πŸ˜™

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s