Renungan Cuci Beras

​Ada cerita.

Ada perempuan yang gerakan tangannya berhenti sejenak waktu mencuci beras yang hendak ia tanak.

Dilihatnya butiran beras basah di tangannya dengan rasa berdosa di dalam hati. Matanya mulai memanas.

Dilanjutkannya kembali pekerjaannya mencuci beras untuk dimasak. Tapi pikirannya terus berjalan ke beberapa tahun lalu.
Waktu itu dia sedang melamar kerja ke suatu tempat dan sangat berharap bisa diterima bekerja disana. Karena jenis pekerjaannya ia sukai dan dia sudah mulai letih melamar kerja kesana kemari.
Ternyata dia tidak lulus tes di tempat tersebut. Betapa kecewanya dia. Dan dia pun marah kepada Allah sambil berseru ‘Kemana lagi saya harus cari pekerjaan?’.

Singkat cerita, beberapa bulan kemudian dia dapat pekerjaan dengan tugas serupa di tempat yang lain. Bahkan dengan suasana dan tempat yang lebih menyenangkan.

Kemudian karena satu dan lain hal, dia memutuskan menjadi ibu rumah tangga saja.
Di saat mencuci beras itulah tiba-tiba saja dia ingat akan kemarahannya kepada Allah bertahun-tahun yang lalu itu.

Dari sekian banyak waktu yang ingin dia putar ulang untuk diperbaiki, dia sangat ingin bisa kembali saat dia tidak lulus tes di tempat kerja impiannya dulu. Dia ingin agar saat itu dia bisa bersabar walau kecewa. Tapi kemudian dia berpikir, apa yang sudah terjadi atas izin Allah. Dia berusaha mengambil pelajaran jadi kejadian tersebut.

Dia merasa sangat berdosa pada Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Sekaligus merasa sangat teramat malu.

Dia bilang, walau hanya diam di rumah, betapa Allah ‘Azza Wa Jalla mencukupi semua kebutuhannya. Pakaian yang baik, tempat tinggal yang baik. Semuanya. Termasuk butir-butir beras yang sedang ia cuci. Dengan begitu mudahnya beras datang ke tangannya untuk kemudian berpindah ke dalam perutnya dan keluarganya. Tanpa ia harus bersusah payah menanam padi lebih dulu. Mudah, sungguh mudah ia dapatkan kebutuhannya. Dan semuanya cukup.

Dia tidak berada dalam kondisi yang kelaparan. Dia tidak berada dalam kondisi hidup di jalanan. Dia merasa aman dan lapang.

Benar-benar dia malu saat megingat dirinya protes kepada Allah ‘Azza Wa Jalla. Seolah dia pikir Allah tidak tahu bagaimana memenuhi rezekinya. Seolah Allah tidak tahu mana yang terbaik untuk dirinya.

Sudah demikian buruk persangkaannya kepada Allah tapi Allah tidak memutus rezekinya. Sedikitpun tidak.

Dalam tangisnya yang tidak bersuara, perempuan itu berharap sangat, Allah Subhanahu Wa Ta’ala mengampuninya, atas kebodohan dan kedurhakaannya dulu.

Semoga Allah ‘Azza Wa Jalla mengampuninya.

Allahumma aamiin.

Advertisements

Leave a comment

Filed under Ngalor Ngidul

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s