Tintaku kering

Aku menghela nafas pendek saja Tintaku mengering. Ringan terasa bolpoinku, kopong, melompong.

Bergeser sudah aku tanpa sadar Dulu aksara kupakai sebagai perisai Maju ia, aku di belakangnya. Tak perlu bahkan orang mengetahui wajah si empunya Tak pikir orang suka atau tidak pada ukirannya

Tintaku kering, sisa padanya kerak sedikit. Kemarin-kemarin lupa kuisi Sibuk berdandan supaya jalan ke panggung diperkenankan. Maju badan nyawa terlupa

Lempar saja pena ringan yang kosong ke sisi meja. Nanti kalau wajah sudah kembali seperti semula. Kuambil lagi ia lalu menari kembali bersamanya

Advertisements

Leave a comment

Filed under Ngalor Ngidul

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s