Category Archives: Cerpen (ceritanya)

Membeli Surga

​Fika melambai pada anak bungsunya yang mulai nampak mengecil seiring mobil jemputan sekolah bergerak menjauh dari rumah. Setelah menutup pagar, ia mendengar perutnya berbunyi minta diisi, dengan langkah santai ia menuju meja makan dan alisnya sedikit terangkat melihat nasi goreng di piring besar hanya tersisa beberapa butir.
Pemandangan sisa nasi goreng itu melukis senyum di wajahnya. Pagi ini nasi gorengnya laris untuk sarapan suami dan anak-anak. Namun senandung di perutnya kembali terdengar.
Hanya dalam hitungan detik, ia memutuskan pergi ke ujung jalan komplek untuk membeli ketoprak kesukaannya. Dengan segera ia mengganti pakaiannya lengkap dengan jilbab dan kaus kaki. Ketika hendak meraih dompet di atas meja rias, Fika berpikir, agaknya malas harus menenteng dompet jika hanya untuk membeli ketoprak yang tidak jauh dari rumah. Ia mengambil selembar lima puluh ribu dari dalam dompet. Saat hendak berbalik badan, langkahnya tertahan,
‘Mungkin nanti aku mampir ke tukang sayur.’, batinnya. Diambilnya selembar uang seratus ribu dari dalam dompetnya.
Setelah mengunci pintu dan pagar, Fika melangkah menuju ujung jalan komplek, dari tempatnya berjalan sudah terlihat gerobak berwarna biru muda milik tukang ketoprak. Tak lama Fika sampai, beberapa orang sudah mengantri. 
“Satu, dibungkus ya, Pak. Pedes.”, Fika menyampaikan pesanannya. Bapak tukang ketoprak mengiyakan sambil tetap mengerjakan pesanan lain yang sedang ditunggu empat orang yang sedang duduk di kursi kayu panjang.
Sesekali Fika melemparkan pandangannya ke sekeliling. Beberapa tetangga yang lewat bertukar sapa dengannya.
Sebuah gerobak kayu besar berisi banyak pisang melintas pelan. Fika melihat pada bapak tua yang mendorong gerobak itu. 

Dalam hatinya menyelisip iba yang membuat ia harus menarik nafas agak dalam. 

Bapak tua berkulit legam dengan baju yang warnanya sudah tidak terang. Sandal jepitnyapun sudah tipis. Usianya mungkin sudah diatas bilangan tujuh puluh.
Fika bergegas mendekati bapak tua itu.

“Pak, pisangnya berapa?”

“Sepuluh rebu, neng.”

“Saya mau satu ya, Pak…”

Bapak itu mengangguk, mengambil sebuah plastik hitam tipis yang sudah kusut dari bawah gerobaknya. 
Pisang yang sudah dimasukkan ke dalam plastik berpindah tangan, Fika menyodorkan selembar lima puluh ribu.
“Neng, kembaliannya belum ada.”

“Gak usah, Pak.”

“Makasih ya neng.”, sahut si Bapak tua pelan.

“Sama-sama, Pak.”, ujar Fika sambil berjalan kembali menuju gerobak ketoprak.
Pesanan ketoprak belum lagi selesai. Otak Fika berputar-putar menghitung, ‘Harga sesisir pisang ini sepuluh ribu, mungkin untung si Bapak tidak banyak. Uang kembalian empat puluh ribu yang utuh untuk si Bapak. Empat puluh ribu kalau dibelanjakan ke mini market hari gini dapet apa….’.
Bapak tua yang mendorong gerobak berisi pisang bergerak menjauh. Fika berlari mengejarnya. Khawatir Bapak tua itu makin menjauh untuk disusul.

Ketika hampir sampai, Fika berteriak pelan,

“Pak..! Pak..!”, Fika sedikit tersengal. Gerobak pisang berhenti.

“Maaf, uang yang tadi ditukar ya, Pak..”

Tanpa ekspresi, Bapak tua itu mencopot topi yang dikenakannya, mengeluarkan lembaran lima puluh ribu yang tadi diberikan Fika dari lapisan dalam topinya. Diserahkannya uang itu pada Fika.
“Ini, Pak.”, Fika menyerahkan selembar seratus ribu. 

Jemari kurus hitam dan berkeriput itu menerima uang dari Fika. Wajahnya  seperti meneliti namun tanpa ekspresi. 
Fika segera berbalik badan dan setengah berlari menuju gerobak tukang ketoprak. Ketopraknya sudah siap. Dibayarnya sebungkus ketoprak itu, lantas ia bergegas pulang.
Dalam benaknya, ia sudah berencana untuk mengabari suaminya di kantor perihal uang belanja yang dipakainya untuk diberikan ke Bapak penjual pisang.
Sampai di rumah, Fika segera mencari telpon genggamnya. Dilihatnya jam dinding di atas televisi, ‘Masih jam sembilan. Belum istirahat, ganggu gak ya…, aku kirim pesan sajalah.’, batinnya.
‘Mas, aku tadi beli pisang.’ *terkirim*
‘Oh iya, terus kenapa. Kok tumben lapornya kepagian ?:D’, *pesan masuk*
‘Belinya seratus ribu.’ *terkirim*
‘Hah? Mahal amat? Beli berapa sisir?’. *pesan masuk*
‘Satu doang. Harganya sepuluh ribu, tadinya aku bayar lima puluh ribu. Kembalian empat puluh ribu niatnya mau aku sedekahin ke yang jual. Kasian mas,  bapak-bapak udah tua. Terus kupikir empat puluh ribu hari gini kalo ke mini market aja paling dapet apa…, akhirnya aku tuker sama seratus ribuan. Maaf ya, aku pake uang belanja buat sedekah dan baru bilang belakangan.’ *terkirim*
‘Oh gitu…., iya gak apa-apa. :)’ *pesan masuk*
‘Maaf kalau kebanyakan sedekahnya, Mas.’ *terkirim*
‘Sembilan puluh ribu terlalu murah untuk membeli surga, sayang… dan Alhamdulillah kita masih ada uang untuk nutupin kebutuhan kita. Orang lain ada yang berharap wajah Allah dengan jiwanya. Dan yang kamu kasih ke si Bapak itu sudah rejekinya si Bapak, datang melalui kamu. Allah Maha Baik ya, kita dikasih kemudahan buat beramal, pahalanya pun kalau ikhlas buat kita. Wallahu a’lam. ☺’ *pesan masuk*
Fika menghela nafas. Ya, mengapa dia cemas uang sembilan puluh ribu terlalu banyak untuk disedekahkan. Padahal itu tak cukup banyak juga kalau dibelanjakan ke pasar.

‘Jazaakallah khoyron katsir ya, Mas. Semoga Allah balas kebaikan Mas dengan yang lebih baik.’ *terkirim

‘Waiyyaki. Sama-sama…, semoga Allah membalas kebaikanmu juga. :)’ *pesan masuk*

Perut Fika kembali berbunyi, dia teringat sebungkus ketoprak yang diletakkan di atas meja makan belum lagi dibuka. Saatnya menjodohkan ketoprak tersebut dengan perutnya.

Advertisements

Leave a comment

Filed under Cerpen (ceritanya)

Kojek

Namanya Gopal. Tapi dia bukan orang India. Entah kenapa ia dinamai dengan nama tersebut.

Perawakannya besar, sehari-hari mengenakan kaos, celana dan jaket jeans yang sudah pudar warnanya bukan karena trend. Pudar karena sudah lama dipakai sebab itu saja yang dia punya.

Gopal biasa jalan mondar-mandir dari gang satu ke gang yang lain. Sering dia palak anak-anak yang pulang sekolah. Kadang Gopal minta sepatu yang mereka pakai. Jadilah mereka bertelanjang kaki pulang sekolah.
Hanya satu dua anak yang berani mengadu pada orang tua mereka.
Sudah tiga kali Gopal ditegur RW setempat, termasuk Pak Haji Jamin bahkan diadukan ke Polisi. Tetap dia tidak merubah kegemarannya memalak anak sekolah.
Di hadapan anak-anak sekolah, Gopal merasa dia yang paling kuat, paling ditakuti.

Kebanyakan anak-anak sekolah yang sudah melihat Gopal dari jauh akan berbalik arah dan mencari jalan yang lain.

Namanya Efendi, tapi orang banyak memanggilnya ‘Pendi’. Bocah kelas lima sekolah dasar berkulit gelap dan kurus ini satu hari berjalan riang pulang dari sekolah. Terik matahari agak terlupakan olehnya disebabkan riangnya hati. Hati yang riang karena membawa sebuah kotak berisi sepatu baru. Hasil dari memecahkan celengan ayamnya.
Sepulang sekolah ia pergi ke pasar yang tak jauh jaraknya.
Tak lama sepatu baru sudah bisa didekapnya.
Sisa uang dari celengan ia belikan sedikit untuk dua permen kojek. Satu untuknya, satu untuk adiknya.

Tak hanya terik matahari yang agak terlupakan oleh Pendi. Dia juga lupa ada Gopal yang biasa mondar mandir di sudut jalan dekat pasar.

Riang langkah Pendi terhenti dihadang besarnya tubuh Gopal
“Bawa apa lu?”, Gopal menilik kotak yang dibawa Pendi.
Jantung Pendi berdegup kencang, “Bukan apa-apa, bang…”
“Sini coba gue liat!”.
Tangan Gopal serta merta mengambil kotak yang ada di tangan Pendi.
Lemas sudah kaki Pendi. Hilang harapannya bisa memakai sepatu baru esok ke sekolah.
“Jangan, bang. Kekecilan juga buat abang.”, kering terasa di mulut Pendi.
“Bisa gue duitin! Mana duit lu? Keluarin isi saku!”
Saking senangnya tadi, Pendi tidak menyimpan uang kembalian dari toko sepatu dengan rapi. Dua lembar uang sepuluh ribu dan dua permen kojek mengintip dari balik saku baju seragamnya.
Perlahan Pendi serahkan uangnya pada Gopal. 
“Itu apaan?”
“Yang mana, bang?”, Pendi bingung, apalagi yang Gopal cari dari dirinya.
“Ituuuu, di saku lu!”
“Kojek ini, bang.”
“Siniin!”
Pendi sedikit ternganga. Permen kojek murah pun dimintai oleh Gopal. 
“Buat adik saya, bang…”
“Siniin ah!”, ketus Gopal.
“Satu aja, bang. Satu buat adik saya.”, suara Pendi mulai terdengar sedikit kesal.
“Ya udah cepetan!”
Dengan muka sebal Pendi memberikan satu permen kojeknya pada Gopal. 
“Dah sana pulang lu!”, ujar Gopal ringan sambil membuka permen kojek yang dia sita dari Pendi.

Pendi berjalan perlahan dengan perasaan pedih melihat pada kotak sepatunya. Matanya mulai terasa panas.
“Udah pulang sana!”, tegas Gopal sambil menikmati permen kojek sambil sesekali digigitnya.

Pendi berusaha memalingkan muka, kembali berjalan menuju pulang. Belum lima langkah, terdengar suara mengaduh kencang. Suara Gopal.
Pendi membalikkan badan dengan cepat.
Dilihatnya Gopal berjongkok sambil memegang pipinya.
“Aduh gigi gueeee!”, erang Gopal lirih. Dia lupa dengan lubang di gigi gerahamnya. Permen kojek yang dikunyahnya memberi hadiah rasa ngilu yang aduhai dan lebih baik tak kau rasakan.

Demi melihat kotak sepatu dari tangan Gopal terlepas, Pendi berlari dan mengambilnya dengan cepat. Hatinya masih kesal pada Gopal. 
Mata Pendi menangkap sebilah kayu ukuran sedang, diambilnya kayu tersebut dan dihantamkannya kuat-kuat ke drum kosong yang besar di belakang Gopal. Lalu ia berlari meninggalkan Gopal yang masih kesakitan sambil memegang pipinya.

Gopal menganga tak bersuara. Sakit giginya makin terasa nikmat saat suara drum kosong itu bergaung kencang dari belakang.

Air mata Gopal muncul di sudut matanya.  Sayup adzan ashar mulai berkumandang.
Dalam hati Gopal berkata, “Gue gak nyangka, badan segede gini, tenaga sekuat ini, ternyata bisa gak bisa apa-apa cuma karena sakit gigi. Ya Allah, ampun…”.
Gopal bersandar pada drum kosong di belakangnya. Titik air yang semula menggantung di ujung mata perlahan mengalir ke pipi, melewati bagian luar giginya yang ngilu sangat. Nyut… nyut… nyut…

*pic taken from: google (pelangilollicandy.com)

Leave a comment

Filed under Cerpen (ceritanya)

Kipas Sate

​Dua orang perempuan usia tiga puluhan sedang duduk di sebuah tenda pinggir jalan, memesan dua porsi sate ayam. Dari pakaian yang dikenakan, nampak mereka seperti karyawati di ibukota pada umumnya. Hari sudah pukul 20.15.
“Gue mau resign ah.”, kata perempuan yang berkacamata.
“Kenapa?”, tanya temannya yang berkerudung.
“Capek, lembur melulu.”
“Gak melulu kali, kalo kerjaan lagi banyak aja. Gue juga gitu.”
“Iya sih, tapi kayaknya bukan passion gue deh kerja disini.”, si perempuan berkacamata menyambut dua porsi sate ayam dan nasi yang diberikan tukang sate, satu disodorkan pada temannya.
“Emang lu pengennya kerja apa?”, perempuan yang berkerudung lanjut mengunyah.
“Yah… pengen kerjaan yang bisa traveling gitu deh. Kayaknya enak, jalan-jalan, nulis terus dapet duit.”
“Emang lu suka nulis? Paling nulis status.”, ledek temannya sambil tersenyum.
“Ih, ngeselin. Sukalah, makanya gue pengen kerjaan yang bisa menyalurkan hobi gue. Lagian gue bosen kerja di kantoran gini. Udah dua tahun, status masih kontrak.”
“Tapi kan gaji udah dinaikin, ntar juga diangkat jadi permanen…”
“Iya, tapi kan segitu doang naiknya. Pengen jugalah gue kayak temen-temen gue yang lain. Kalau lagi pada reunian gue liat hapenya keren-keren. Gue mesti nabung enam bulan dulu kalau mau hape keluaran baru.

Udah gitu gue juga pengen bisa   jalan-jalan kayak orang-orang. Kerjaan gue capek, mesti nanganin customer yang ngomel-ngomel melulu, mesti lembur. Kadang weekend masuk kantor.

Belum lagi bosnya ngeselin. Lagian gue boseeeeennn, kerjaan gue gitu-gitu doang….”
‘Prak!’, bunyi sesuatu dibanting.

Ada kipas sate jatuh di trotoar.
Laki-laki kurus berkulit gelap dengan kumis tipisnya bediri menghadap dua perempuan tersebut, dengan muka sebal dia menatap mereka,

“Mbak! Mbak bosen sama kerjaan mbak? Mbak pikir cuma mbak yang bosen sama kerjaan mbak?

Orang lain juga sama kayak mbak! Termasuk saya!. Saya juga suka bosen sama kerjaan saya mbak!. Udah dua puluh taun jualan sate! Tiap hari harus nyiapin dagangan yang itu-itu aja! Beli bumbu yang itu-itu aja!  Belum lagi saya mesti ngipasin sate ya gitu-gitu aja, mbak!. Kanan-kiri, kanan-kiri, kanan-kiri! Kadang maju mundur. 

Capek mbak!. Sama! Yang namanya cari duit itu capek. Tapi saya harus kerjain ini mbak, anak istri saya kan perlu makan, perlu biaya buat sekolah. Boro-boro saya mikirin beli hape sama jalan-jalan. Saya ngumpulin duit biar bisa bayar kontrakan, biar bisa ngasih sama orang tua saya di kampung, biar saya bisa mudik Lebaran nanti. 

Badan saya udah bau asep! Baunya nempel di baju, nempel di badan!.

Tapi saya bersyukur, paling nggak saya sama keluarga tiap hari masih bisa makan, masih bisa hidup. Maaf nih ya mba, bukan mau ngajarin, tapi idup itu jangan banyak ngeluh. Mesti banyak bersyukur…”
Si tukang sate itu memungut kipas satenya, membalikkan badan dan kembali melanjutkan mengipas sate.
Seorang laki-laki yang belakangan duduk memesan sate melirik pada dua perempuan itu, lalu kembali menatap ponselnya.
Si perempuan berkacamata menghampiri dengan canggung, “Berapa, pak?”
“Satenya dua, tiga puluh ribu. Minum gratis!”.
Setelah membayar, kedua perempuan itu beranjak pergi, menerobos asap dari gerobak sate. 

Malam mulai gerimis.

Leave a comment

Filed under Cerpen (ceritanya)

Sang Orator

​Siang hari terik. Di satu titik di Jakarta, ramai kerumunan riuh memenuhi halaman sebuah gedung berpagar tinggi yang dijaga ketat para polisi.
Seorang pemuda dengan jas almamater kebanggaannya berdiri dengan toa di tangan, menyapu pandangan kepada orang-orang di depannya.
Suaranya naik turun, panjang isi kalimatnya, bagus pilihan katanya. Pandai ia menyusun nada bicaranya.

Sesekali orasinya disambut teriakan penuh semangat dari kawan-kawannya, sesekali ia mendapat tepuk tangan bergemuruh.
Suasana panas, sepanas rentetan kata sang orator. Dinding-dinding gedung penuh dengan spanduk dan coretan penuh tuntutan.
Seorang laki-laki berkulit gelap paruh baya dengan tegap dan gagah meringsek maju di dalam kerumunan. Sebelum sampai di baris depan, ia berhenti, menatap tajam pada sang orator yang masih berapi-api penuh semangat menyampaikan kata-katanya.
Ketika sang orator mengambil nafas sambil berfikir untuk menyusun sebuah kalimat baru, tiba-tiba tenggorokannya tercekat, mulutnya terasa kering, matanya tertumbuk pada sosok laki-laki paruh baya tersebut.
Ia berhenti berorasi, memberikan toa pada teman di sebelahnya dengan pesan terburu-buru.

Dengan agak tergagap, temannya berusaha meneruskan orasinya.

Sang orator yang semula berdiri di depan, berjalan meringsek ke dalam kerumunan mengikuti punggung laki-laki tegap itu yang sudah berbalik badan dan berjalan duluan.
Mereka berjalan dalam diam menuju pinggir kerumunan dan menjauh, berdiri di bawah sebuah pohon.
“Bapak…”, sang orator berusaha mengeluarkan suaranya. 

“Pulang.”, tegas laki-laki yang dipanggil bapak tersebut.

Pemuda itu terdiam, bingung.

“P u l a n g!”, dengan suara pelan tapi lebih tegas, bapaknya mengulang.
“Aku sama teman-teman sedang membela rakyat kecil, Pak. Memperjuangkan nasib rakyat kecil.”, dia mulai mendapatkan suaranya kembali.

“Rakyat kecil mana maksudmu?”

“Semua orang miskin, Pak. Kayak kita ini.”

“Supaya apa?”

“Supaya bisa lebih hidup sejahtera, Pak.”

“Sejahtera bagimana?”

“Bisa hidup lebih layak.”

Bapaknya menarik napas panjang, kalau sudah begitu biasanya si pemuda menahan napasnya, bersiap menerima ceramah yang panjang.

“Pertama, kalau kamu bilang kita miskin. Bapak menolak. Kita tidak miskin. Kita cukup. Makan cukup, tempat tinggal ada, semua kebutuhan tercukupi. Walau mungkin kita harus lebih peres keringet, peres perasaan. Dan kamu ini bisa kuliah, bersyukur. Kamu bisa kuliah. Jadi jangan bilang kita miskin!.

Kedua, kalau kamu sama temen-temen kamu bilang sedang membela rakyat kecil, justru saat ini kamu sama temen-temen kamu bikin kesel ati bapak! Kamu lupa? Sebelum jadi supir, Bapak jadi kuli! Termasuk pernah jadi kuli buat gedung ini! Gedung yang kamu sama temen-temenmu coret ini!. Biar cuma jadi kulinya, bapak seneng tiap lewat sini, liat gedung ini masih mentereng.”
Pemuda itu menelan ludahnya.
“Dan yang bikin bapak kecewa, kamu melakukan sesuatu tidak pada tempatnya. Kamu ijin dari rumah mau berangkat kuliah, kamu sudah bohong.

Dan itu sangat mengecewakan. Kamu pikir negara ini bisa maju dari mulut yang suka bohong? Bapak nguliahin kamu supaya jadi orang, bisa ngasih manfaat buat negeri ini dari tanganmu, dari ilmumu, gak cuma dari mulut pedesmu kayak barusan!”

Pemuda itu makin terdiam.
Ada bunyi terdengar dari saku baju laki-laki itu, lalu tangannya mengambil sebuah ponsel tua . 

“Adekmu sms, wawancara kerjanya gagal, karena telat datang. Katanya karena ada demo di jalan ini.”, Bapaknya melirik, menyampaikan isi pesan singkat yang membuat lidah si pemuda itu makin kelu.
“Bapak minta kamu bereskan urusanmu disini, terus pulang. Bantu ibuk di rumah.”
Pemuda itu menghela nafas.
“Skripsimu cepat selesaikan. Kamu sudah keduluan adekmu.  Bapak ngarep kamu jadi orang pinter, banyak do’a, keras kerjanya.”, lanjut bapaknya.
Laki-laki tegap paruh baya itu merogoh sakunya, dengan cepat dan sembunyi-sembunyi diselipkannya beberapa puluh ribu ke saku anaknya.

“Buat minum, mestik haus habis banyak ngomong. Sudah, bapak mau kerja lagi.”

Pemuda itu menatap punggung bapaknya yang bergegas pergi, dari jauh dia lihat bapaknya masuk dan duduk di belakang kemudi sebuah angkot.
Bapaknya melambai, sambil menggerakkan mulutnya mengucap kata ‘pulang’.

2 Comments

14/09/2016 · 14:06