Category Archives: Ngalor Ngidul

​UWAIS TAK DAPAT MENOLAK

Aku teringat pada kisah Uwais
Seorang yang tidak dapat menolak ketenaran
Tidak memiliki harta

Tidak memiliki keahlian

Tidak memiliki kedudukan
Tapi Rasulullah berkabar tentangnya

Amirul Mukminin mencarinya
Nama Uwais sayup saja terdengar di bumi,

tapi ia mahsyur di langit
Jauh waktu berselang

Nama Uwais kini dikenal pula di bumi
Tak ada gambar diri

Tak ada jejak berupa prasasti
Tapi kisah Uwais tertanam pada kitab karena pada ibunya ia berbakti
Uwais berupaya sembunyi dari kemahsyuran

Tapi Allah ‘Azza Wa Jalla memiliki kuasa
Uwais tak dapat menolak

Namanya sudah terangkat

Advertisements

Leave a comment

Filed under Ngalor Ngidul

Ibu

Di antara warna warni hubungan kita,

engkau selalu terlukis sama pada akhirnya

engkau adalah rindu yang datang seketika
engkau adalah puisi sunyi dalam hati tiap-tiap jiwa yang tersisa

Ibu…
engkau adalah rindu dan puisi yang tak berkesudahan

Jakarta 13 Juli 2017

Leave a comment

Filed under Ngalor Ngidul

Tintaku kering

Aku menghela nafas pendek saja Tintaku mengering. Ringan terasa bolpoinku, kopong, melompong.

Bergeser sudah aku tanpa sadar Dulu aksara kupakai sebagai perisai Maju ia, aku di belakangnya. Tak perlu bahkan orang mengetahui wajah si empunya Tak pikir orang suka atau tidak pada ukirannya

Tintaku kering, sisa padanya kerak sedikit. Kemarin-kemarin lupa kuisi Sibuk berdandan supaya jalan ke panggung diperkenankan. Maju badan nyawa terlupa

Lempar saja pena ringan yang kosong ke sisi meja. Nanti kalau wajah sudah kembali seperti semula. Kuambil lagi ia lalu menari kembali bersamanya

Leave a comment

Filed under Ngalor Ngidul

Lebaran yang selalu begitu

Menggosok debu yang berkerak di lantai yang jarang dipijak,
Di rumah yang sudah lama didiami hingga orang yang tinggal tak lagi banyak

Rasanya serupa membuka album foto yang sudah lama

Tapi rasa yang menyerbu masuk ke dalam dada kentalnya lebih terasa
Ini hari Lebaran,

Dimana banyak orang sengaja atau tidak meraup haru dan rindu yang tak dapat digenggam erat oleh tangan
***

Leave a comment

Filed under Ngalor Ngidul

Menjelang Lebaran

Aku menengadah melihat jendela-jendela yang terang oleh cahaya matahari. 

Rumah nampak lapang dan benderang karena gorden dan karpet yang belum dipasang.
Lalu segumpal rasa nan sejuk masuk berputar dalam dadaku hingga terasa sampai pada udara yang aku hirup,

“Aku rindu padamu, Mama.”

Leave a comment

Filed under Ngalor Ngidul

Mie Aceh

Mie Aceh kesukaanku ini rasanya enak, Pa.

Biasanya aku akan semangat melahapnya.

Mie Aceh ini tetap enak rasanya, Pa.

Tapi di lidah.

Tidak di hatiku.

Mengingatmu beberapa hari ini kehilangan nafsu makan.

Hanya susu dan minuman sereal kemasan yang kau bilang ‘enak’.

Tapi aku bersyukur masih ada yang masuk ke dalam perutmu.

Aku menyantap Mie Aceh ini dengan mata yang basah dan hidung berair, Pa.

Bukan karena pedasnya, tapi memikirkanmu yang tidak berselera makan dan tubuhmu semakin kurus.

Semoga nafsu makanmu kembali lagi.

Akan kucari semampuku makanan yang engkau suka, Pa.

InsyaAllah.

Cepat sembuh, Papa.

Leave a comment

30/05/2017 · 15:14

Menyerah saja…

Manusia berlomba

Membuat segala yang dapat menembus bumi
Membuat segala yang dapat mengangkat ke langit
Lalu pongah dengan hasil yang sedikit

Sudah menyerah saja,
Pada akhirnya manusia harus tau diri
Untuk apa dia diciptakan

Sepayah mungkin berusaha…
Pada akhirnya yang dibuat manusia hanya tiruan-tiruan
Tiruan yang jauh dari sempurna

Sudah menyerah saja,
Manusia tidak dapat membuat rindu
Bahkan tiruannya sekalipun…

.

.

Jakarta yang deket Bekasi, menjelang
sampai setelah adzan Maghrib, 18 Mei 2017

picture taken from pixabay

Leave a comment

Filed under Ngalor Ngidul