Category Archives: Ngalor Ngidul

Tintaku kering

Aku menghela nafas pendek saja Tintaku mengering. Ringan terasa bolpoinku, kopong, melompong.

Bergeser sudah aku tanpa sadar Dulu aksara kupakai sebagai perisai Maju ia, aku di belakangnya. Tak perlu bahkan orang mengetahui wajah si empunya Tak pikir orang suka atau tidak pada ukirannya

Tintaku kering, sisa padanya kerak sedikit. Kemarin-kemarin lupa kuisi Sibuk berdandan supaya jalan ke panggung diperkenankan. Maju badan nyawa terlupa

Lempar saja pena ringan yang kosong ke sisi meja. Nanti kalau wajah sudah kembali seperti semula. Kuambil lagi ia lalu menari kembali bersamanya

Leave a comment

Filed under Ngalor Ngidul

Lebaran yang selalu begitu

Menggosok debu yang berkerak di lantai yang jarang dipijak,
Di rumah yang sudah lama didiami hingga orang yang tinggal tak lagi banyak

Rasanya serupa membuka album foto yang sudah lama

Tapi rasa yang menyerbu masuk ke dalam dada kentalnya lebih terasa
Ini hari Lebaran,

Dimana banyak orang sengaja atau tidak meraup haru dan rindu yang tak dapat digenggam erat oleh tangan
***

Leave a comment

Filed under Ngalor Ngidul

Menjelang Lebaran

Aku menengadah melihat jendela-jendela yang terang oleh cahaya matahari. 

Rumah nampak lapang dan benderang karena gorden dan karpet yang belum dipasang.
Lalu segumpal rasa nan sejuk masuk berputar dalam dadaku hingga terasa sampai pada udara yang aku hirup,

“Aku rindu padamu, Mama.”

Leave a comment

Filed under Ngalor Ngidul

Mie Aceh

Mie Aceh kesukaanku ini rasanya enak, Pa.

Biasanya aku akan semangat melahapnya.

Mie Aceh ini tetap enak rasanya, Pa.

Tapi di lidah.

Tidak di hatiku.

Mengingatmu beberapa hari ini kehilangan nafsu makan.

Hanya susu dan minuman sereal kemasan yang kau bilang ‘enak’.

Tapi aku bersyukur masih ada yang masuk ke dalam perutmu.

Aku menyantap Mie Aceh ini dengan mata yang basah dan hidung berair, Pa.

Bukan karena pedasnya, tapi memikirkanmu yang tidak berselera makan dan tubuhmu semakin kurus.

Semoga nafsu makanmu kembali lagi.

Akan kucari semampuku makanan yang engkau suka, Pa.

InsyaAllah.

Cepat sembuh, Papa.

Leave a comment

30/05/2017 · 15:14

Menyerah saja…

Manusia berlomba

Membuat segala yang dapat menembus bumi
Membuat segala yang dapat mengangkat ke langit
Lalu pongah dengan hasil yang sedikit

Sudah menyerah saja,
Pada akhirnya manusia harus tau diri
Untuk apa dia diciptakan

Sepayah mungkin berusaha…
Pada akhirnya yang dibuat manusia hanya tiruan-tiruan
Tiruan yang jauh dari sempurna

Sudah menyerah saja,
Manusia tidak dapat membuat rindu
Bahkan tiruannya sekalipun…

.

.

Jakarta yang deket Bekasi, menjelang
sampai setelah adzan Maghrib, 18 Mei 2017

picture taken from pixabay

Leave a comment

Filed under Ngalor Ngidul

Harap

​Anakku harus bisa membaca Al-Qur’an

Karena Al-Qur’an akan melipur laranya, menghapus kesedihannya…
Anakku harus dapat membaca Al-Qur’an

Karena didalamnya semua petunjuk jalan-jalan yang harus ia tapaki, pun jalan-jalan yang harus ia hindari
Anakku, semoga ia mendekap erat Al-Qur’an dalam hidupnya,

Sehingga…

Sepi tidak akan menghujamnya

Lelah tidak akan menghimpitnya

Perihal cinta akan diketahui dimana sejatinya

Ketika sekali helaan nafas ia terlupa, pada helaan berikut lekas ia kembali mengingat Rabb-nya
Anakku, semoga dadanya dipenuhi dengan kalimat-kalimat Allah,

Sehingga

Ia tak akan gentar…

Ia tak akan rapuh…

Ia tak akan layu…

Ia tahu, Ia yakin…

Ketika dunia berpaling, Rabb-nya tidak…
Harapan-harapanku yang terbilang barusan harus bermula dariku
Akulah yang harus bisa membaca Al-Qur’an

Aku yang harus terlebih dulu dapat membaca Al-Qur’an

Aku yang harus mendekap erat Al-Qur’an saat melangkah

Aku pula yang harus memenuhi hatiku dengan Al-Qur’an

Maka aku memiliki gempita untuk menuntun anakku
Berat memang

Payah terasa

Karena lama Al-Qur’an sempat tertinggal

Berganti syair-syair imitasi bahagia
Biar tertatih,

Tapi rahmat Allah bukan tak mungkin diraih
Ya-Rabb

Ini aku meminta

Ringankanlah langkahku…

Leave a comment

Filed under Ngalor Ngidul

Renungan Cuci Beras

​Ada cerita.

Ada perempuan yang gerakan tangannya berhenti sejenak waktu mencuci beras yang hendak ia tanak.

Dilihatnya butiran beras basah di tangannya dengan rasa berdosa di dalam hati. Matanya mulai memanas.

Dilanjutkannya kembali pekerjaannya mencuci beras untuk dimasak. Tapi pikirannya terus berjalan ke beberapa tahun lalu.
Waktu itu dia sedang melamar kerja ke suatu tempat dan sangat berharap bisa diterima bekerja disana. Karena jenis pekerjaannya ia sukai dan dia sudah mulai letih melamar kerja kesana kemari.
Ternyata dia tidak lulus tes di tempat tersebut. Betapa kecewanya dia. Dan dia pun marah kepada Allah sambil berseru ‘Kemana lagi saya harus cari pekerjaan?’.

Singkat cerita, beberapa bulan kemudian dia dapat pekerjaan dengan tugas serupa di tempat yang lain. Bahkan dengan suasana dan tempat yang lebih menyenangkan.

Kemudian karena satu dan lain hal, dia memutuskan menjadi ibu rumah tangga saja.
Di saat mencuci beras itulah tiba-tiba saja dia ingat akan kemarahannya kepada Allah bertahun-tahun yang lalu itu.

Dari sekian banyak waktu yang ingin dia putar ulang untuk diperbaiki, dia sangat ingin bisa kembali saat dia tidak lulus tes di tempat kerja impiannya dulu. Dia ingin agar saat itu dia bisa bersabar walau kecewa. Tapi kemudian dia berpikir, apa yang sudah terjadi atas izin Allah. Dia berusaha mengambil pelajaran jadi kejadian tersebut.

Dia merasa sangat berdosa pada Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Sekaligus merasa sangat teramat malu.

Dia bilang, walau hanya diam di rumah, betapa Allah ‘Azza Wa Jalla mencukupi semua kebutuhannya. Pakaian yang baik, tempat tinggal yang baik. Semuanya. Termasuk butir-butir beras yang sedang ia cuci. Dengan begitu mudahnya beras datang ke tangannya untuk kemudian berpindah ke dalam perutnya dan keluarganya. Tanpa ia harus bersusah payah menanam padi lebih dulu. Mudah, sungguh mudah ia dapatkan kebutuhannya. Dan semuanya cukup.

Dia tidak berada dalam kondisi yang kelaparan. Dia tidak berada dalam kondisi hidup di jalanan. Dia merasa aman dan lapang.

Benar-benar dia malu saat megingat dirinya protes kepada Allah ‘Azza Wa Jalla. Seolah dia pikir Allah tidak tahu bagaimana memenuhi rezekinya. Seolah Allah tidak tahu mana yang terbaik untuk dirinya.

Sudah demikian buruk persangkaannya kepada Allah tapi Allah tidak memutus rezekinya. Sedikitpun tidak.

Dalam tangisnya yang tidak bersuara, perempuan itu berharap sangat, Allah Subhanahu Wa Ta’ala mengampuninya, atas kebodohan dan kedurhakaannya dulu.

Semoga Allah ‘Azza Wa Jalla mengampuninya.

Allahumma aamiin.

Leave a comment

Filed under Ngalor Ngidul