Anak

Kadang aku ingin begini saja

Bukan karena aku tak ingin menua

Tapi adakah yang sepertimu…

Memelukku penuh rindu

Ketika bersua

Padahal hanya sesaat tak jumpa

Aku di dapur,

Engkau bermain di ruang tengah

Leave a comment

Filed under Puisi/Syair

Salah Kira

Kupikir… aku perlu cuti dari mengerjakan pekerjaan rumah sesekali

Atau mungkin aku perlu berlibur barang satu atau dua hari

Atau perlu bertemu dengan orang-orang sebentar saja, barangkali

Atau mungkin hanya perlu menulis sedikit saja menjabarkan isi hati

Tapi…
Cuti dari pekerjaan akan usai

Liburan akan selesai

Perpisahan akan sampai

Kalimat pada tulisanpun sudah banyak yang terangkai
Pun begitu,

Susah senang berputar tak tentu waktu

Sejauh dan sepayah itukah bahagia untuk dituju?

Sesaat aku tersadar,
Mengapa bahagia pada hatiku pada waktu-waktu tertentu menjadi samar
Karena…
Dzikir-dzkirku terhenti

Mulut jarang melantunkan ayat suci

Ponselku hampir tak pernah lepas dari genggaman jemari

Tapi Al-Qur’an teronggok di lemari
Segala cara dan tempatku berlari untuk melepas gundah tak ada yang abadi
Hanya Allah yang tak pernah pergi

Allah tak pernah pergi…
Aku salah kira,
Bukan badanku yang payah bekerja

Tapi hatiku yang sibuk dan tidak tertata
Ternyata

Letihku bukan pada raga

Tapi di dalam jiwa

Leave a comment

Filed under Puisi/Syair

Cukup

Untuk apa menjadi dikenal…?

Malam ini… tidur enak saja untuk menghilangkan letih sudah cukup

Ada Allah di ‘Arsy-Nya

Begini saja sudah cukup…

*renungan sebelum tidur dari orang yang kadang pengen beken, heu heu.

Leave a comment

29/09/2016 · 16:07

Renungan Cuci Beras

​Ada cerita.

Ada perempuan yang gerakan tangannya berhenti sejenak waktu mencuci beras yang hendak ia tanak.

Dilihatnya butiran beras basah di tangannya dengan rasa berdosa di dalam hati. Matanya mulai memanas.

Dilanjutkannya kembali pekerjaannya mencuci beras untuk dimasak. Tapi pikirannya terus berjalan ke beberapa tahun lalu.
Waktu itu dia sedang melamar kerja ke suatu tempat dan sangat berharap bisa diterima bekerja disana. Karena jenis pekerjaannya ia sukai dan dia sudah mulai letih melamar kerja kesana kemari.
Ternyata dia tidak lulus tes di tempat tersebut. Betapa kecewanya dia. Dan dia pun marah kepada Allah sambil berseru ‘Kemana lagi saya harus cari pekerjaan?’.

Singkat cerita, beberapa bulan kemudian dia dapat pekerjaan dengan tugas serupa di tempat yang lain. Bahkan dengan suasana dan tempat yang lebih menyenangkan.

Kemudian karena satu dan lain hal, dia memutuskan menjadi ibu rumah tangga saja.
Di saat mencuci beras itulah tiba-tiba saja dia ingat akan kemarahannya kepada Allah bertahun-tahun yang lalu itu.

Dari sekian banyak waktu yang ingin dia putar ulang untuk diperbaiki, dia sangat ingin bisa kembali saat dia tidak lulus tes di tempat kerja impiannya dulu. Dia ingin agar saat itu dia bisa bersabar walau kecewa. Tapi kemudian dia berpikir, apa yang sudah terjadi atas izin Allah. Dia berusaha mengambil pelajaran jadi kejadian tersebut.

Dia merasa sangat berdosa pada Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Sekaligus merasa sangat teramat malu.

Dia bilang, walau hanya diam di rumah, betapa Allah ‘Azza Wa Jalla mencukupi semua kebutuhannya. Pakaian yang baik, tempat tinggal yang baik. Semuanya. Termasuk butir-butir beras yang sedang ia cuci. Dengan begitu mudahnya beras datang ke tangannya untuk kemudian berpindah ke dalam perutnya dan keluarganya. Tanpa ia harus bersusah payah menanam padi lebih dulu. Mudah, sungguh mudah ia dapatkan kebutuhannya. Dan semuanya cukup.

Dia tidak berada dalam kondisi yang kelaparan. Dia tidak berada dalam kondisi hidup di jalanan. Dia merasa aman dan lapang.

Benar-benar dia malu saat megingat dirinya protes kepada Allah ‘Azza Wa Jalla. Seolah dia pikir Allah tidak tahu bagaimana memenuhi rezekinya. Seolah Allah tidak tahu mana yang terbaik untuk dirinya.

Sudah demikian buruk persangkaannya kepada Allah tapi Allah tidak memutus rezekinya. Sedikitpun tidak.

Dalam tangisnya yang tidak bersuara, perempuan itu berharap sangat, Allah Subhanahu Wa Ta’ala mengampuninya, atas kebodohan dan kedurhakaannya dulu.

Semoga Allah ‘Azza Wa Jalla mengampuninya.

Allahumma aamiin.

Leave a comment

Filed under Ngalor Ngidul

Orang Islam…

​Saya punya tetangga yang rumahnya gak deket-deket amat jaraknya dari rumah saya. Tetangga saya ini seorang nenek keturunan Tionghoa. Saya biasa panggil beliau ‘Oma’. Dia tinggal sendirian. Putra semata wayangnya sudah kerja dan kost di daerah Jakarta Barat (kami tinggal di daerah Jakarta Timur yang sedikit lagi ‘nowel’ Bekasi). Suaminya sudah meninggal. Kata Oma, suaminya orang Solok, Sumatra Barat. Mungkin itu sebab dia cukup fasih berbahasa Minang.
Rumah Oma dominan berwarna putih dengan ukuran rumah dan halaman yang mungil. Dari depan terlihat bersih. Saya sering lewat depan rumahnya. Seringnya sih pintunya ditutup. Bulan-bulan yang lalu dia masih sesekali mengajar bahasa Belanda semi privat di daerah Jakarta Barat.

Kadang waktu saya lewat beliau sedang menyiram rumput di halaman rumahnya, kalau sudah begitu kadang-kadang langkah saya tertahan untuk ngobrol dengan Oma. 

Satu hari saya melihat papan kecil bertuliskan ‘dijual’ digantung di pagar rumah Oma. Saya ngebatin, ‘Wah dijual? Kenapa? Mau pindahkah?’. 
Dan ketika satu sore saya ketemu beliau di jalan, langsung saya tanya. Percakapan ini saya tulis seingat saya aja ya.

Saya: ” Oma, kok rumahnya dijual? Mau pindah ya?”.
Oma: “Eh itu kan rumah kakak saya. Saya bilang ke dia ‘Jual ajalah Ci (mungkin maksudnya Jiĕ Jiĕ, yang biasanya disingkat jadi ‘Ci’, panggilan untuk kakak perempuan dalam bahasa Mandarin)! ‘. Maksud saya mumpung masih ada, nanti uangnya bisa dia bagi ke anak-anaknya.”

Oma cerita, kakak perempuannya tinggal di Belanda, nikah sama ‘orang sana’, katanya. Anak-anaknya tinggal di beberapa negara berbeda. Rumah yang Oma tempati di Jakarta ini dulu kakaknya yang beli, lalu dia yang tempati. Menurut Oma repot kalau nanti-nanti dijual. Khawatir kalau kakaknya ‘udah gak ada’, repot ‘bagi-baginya’ (kayaknya saya kebanyakan pakai tanda petik yaaa).

Saya tanya, “Trus nanti Oma tinggal dimana?”, “Gampanglah aku ngontrak.” 
Terus si Oma masih ngajak ngobrol, “Eh, kemarin ada yag bilang gini ke saya, ‘Rumahnya dijual satu (M) lebih aja! Nanti bilang ke kakaknya dijualnya satu M. Lebihnya diambil.’, tuh orang Islam tuh yang ngomong!”, kata Oma dengan mimik muka serius sambil nunjuk ke saya. Saya ketawa (rada ‘nyos’ juga dalem ati). Saya jawab santai, “Itu oknum Oma…, oknum! Hehehe. Jangan Oma. Gak berkah ntar.”

“Saya tinggal di rumah itu dari anak nol. Masa saya mau begitu.”. Saya setuju banget sama Oma. Gak etis aja (dan kalau dalam Islam juga ada aturan ya untuk jual beli).

Ini bukan kali pertama Oma ‘komplen’ soal orang Islam. 

Dulu waktu kami lagi ngobrol dekat rumahnya, terselip dalam obrolan, “Kami gak pernah tuh makan-makan kayak kalian pas hari raya.”, terkesan hari Lebaran dirayakan oleh umat Muslim dengan menghambur-hamburkan makanan. Saya ketawa aja waktu itu. Susah ngejelasinnya. Lagian gak perlu juga menurut saya waktu itu buat ngejelasin, di jalan pula.
Memang begitu faktanya. Islam sering dilihat dari penganutnya.  Kalau ada seorang beragama Islam melakukan atau ngomong yang ‘gak enak’, maka yang bakal kena label jelek juga agama Islamnya. Padahal bukan begitu. Bisa jadi orangnya belum tau aturan yang sebenarnya bagaimana dalam Islam. 
Contoh, yang lagi trend, aksi teror bom yang mengatasnamakan jihad. Dalam Islam jihad yang semacam mengangkat senjata itu gak bisa dijalanin sesuka hati ya. Ada aturannya. Setau saya harus ada perintah dari Ulil Amri (Pemerintah). Bukan perintah dari sembarang orang.

Banyak aturan dalam Islam yang kita belum paham (paham ya, bukan sekedar tau). Dan mungkin kita lebih tergoda buat ngasih opini ketimbang repot-repot cari tau sebenernya aturannya gimana.

Tapi saya gak ambil hati kalau sama Oma. Saya maklum, kan dia sepertinya gak banyak tau ajaran Islam.

Oh iya, sebelum bulan Ramadhan tahun 2016 ini, saya dengar si Oma masuk Islam, jadi muallaf. Maka begitu ketemu suatu sore menjelang Maghrib di depan RM. Minang dekat rumah, saya tanya soal kabar tersebut.
Oma sambil senyum-senyum bilang, “Kok kamu tau sih? Tapi saya gak mau pake beginian. Nanti saya kayak setan.”, kata Oma sambil nunjuk jilbab dan gamis saya yang warnanya gelap.

Saya ketawa. Agak ‘speechless’ juga. 😂

2 Comments

Filed under Ngalor Ngidul

Teman Baik

Setelah ‘up and down’ selama kurang lebih dua bulan mendampingi anak laki-laki semata wayang saya ke dan di sekolah, saya memutuskan untuk menghentikan dulu sekolahnya di Taman Kanak-Kanak.

Melihat anak saya belum berminat ke sekolah dan hampir sama sekali tidak mau masuk ke dalam kelas.

Keputusan ini tentunya saya ambil dengan berbagai pertimbangan dan sudah lebih dulu diskusi dengan suami saya.

Suami setuju, kemudian saya ngobrol dengan Bu Guru. Selesai.

Saya lalu mengabarkan teman sekaligus tetangga dan orang tua murid dari teman sekelas anak saya lewat Whatsapp.
Percakapan saya kutip tidak sama persis (lupa di copas hehehe):

Saya: ‘Ali jadi cuti ya, bu.’
Teman: ‘Oh jadi? Eh abahnya setuju?’

Saya: ‘Setuju.’

Teman: ‘Oh syukurlah. Ada lho suami yang bilang -ah elu aja yang gak mau susah- #bukan bojoku.’

Saya: ‘Waduh. Kalo kayak gitu mah suruh giliran ajaaa.’

Teman: ‘Hahahahaha.’
Lalu saya ceritakan percakapan ini ke suami saya. Dan saya tanya ke beliau apa ada prasangka bahwa saya gak mau susah-susah bujuk anak buat sekolah.

Dan jawab suami, “Waduh, aku mah tau diri aja. Bisa bantu juga nggak.”.

Dalam hati saya senyum-senyum sambil berusaha yakin kalimat itu dikeluarkan tanpa tekanan, hahahaha.
Saya bilang ke suami, kalau dia sebenarnyapun sudah berusaha bantu saya ketika beliau bisa. Mulai dari membangunkan anak, memandikan, nyuapin, ngajak main.

Lalu saya kemudian berpikir sendiri. Beruntung ya saya punya suami yang sabar dan pengertian.

Kalau diingat-ingat. Suami saya hampir gak pernah marah. Gak nuntut rumah harus rapih atau makanan harus masak sendiri dan harus enak (nuntut sih nggak, cuma jadi agak suka penasaran kalau lagi makan masakan saya kok suka diem aja, masih bisa diterima apa nggak ya rasanya 😂).

Pulang ke rumah larut malam kadang masih harus denger curhatan saya dengan mata yang gak bisa bohong ‘udah ngantuk banget’, ini pun disambi main sama anak yang antusias pas liat bapaknya pulang.

Saat akhir pekan yang mungkin pengen jadi ‘sleeping handsome’ sebelum bertemu dengan hari Senin, seringnya juga diisi dengan meng- ‘entertain’ anak dan istri jalan-jalan.

Pun begitu masih saja saya menuntut ini itu dari suami. Kalau dengerin curhat yang seriuslah, inisiatif untuk melakukan ini itu lah. Manyun  kalau dia habis makan gak cuci piring, sebel kalau liat jemuran handuk mencong atau bahkan lupa jemur handuk karena buru-buru, dan banyak lagi protes-protes lainnya yang disampaikan dengan gak liat sikon beliau.
Dan suami juga dituntut harus selalu pengertian sama kesibukan dan duka lara saya sebagai ibu rumah tangga yang sibuk main hp ini (lho? 😂).

Satu waktu saya pernah ada urusan keluar rumah, kebetulan urusannya dekat dengan kantor suami. Selesai dari urusan tersebut saya ditawari suami untuk dijemput karena berbarengan juga dengan jam suami pulang kantor.
Asyiknya sore itu boncengan motor berdua lagi untuk jarak yang cukup jauh. Sudah lama kami gak boncengan berdua sejak saya memutuskan berhenti kerja.

Saat itu saya baru tersadar kembali. Betapa macetnya Jakarta saat jam pulang kantor, selain lupa karena jarang keluar rumah, saat bekerja dulu saya juga lebih memilih pulang lewat waktu Maghrib demi menghindari macet dan lebih tenang kalau sholat Maghrib dulu di kantor daripada harus berhenti dulu di jalan dan tergopoh-gopoh sholat Maghrib.

Saya membayangkan rutinitas suami. Pagi hari yang mungkin rasanya belum puas tidur karena pulang larut, sudah harus berangkat lagi. Sebagian energi sudah terpakai di jalan untuk menghadapi macet dan jarak yang lumayan antara rumah dan kantor. Sampai di kantor harus menghadapi pekerjaan yang bisa jadi membosankan, kadang melelahkan, kadang juga penuh kejutan (misal: diomelin atasan). Lalu saat pulang kantor, kembali harus menghadapi kemacetan Jakarta dan jarak yang jauh yang harus ditempuh untuk kembali kw rumah. Di atas motor harus melawan lelah, wajah berdebu dan berminyak (untuk ini saya juga agak pengalaman) dan apabila hujan deras harus berteduh dulu.
Ada sedikit perasaan bersalah dalam hati saya (kok cuma sedikiiiit? Gimana siiiik.). Sudahlah dia menghadapi hari yang melelahkan, sampai di rumah kadang disambut pula dengan wajah asem saya (Ya Allah 😭).

Sering saya meminta perhatian dari suami, merasa cuma saya yang capek di dunia ini. Lupa kalau dia juga baru saja mengalami berbagai kesibukan. Tidak peka, mungkin dia juga pengen curhat tapi keduluan sama cerita saya yang keluar lancar bener kayak narasi drama lima babak.

Dipikir-pikir lagi, makin kecil kesalahan suami, kenapa saya makin menuntut dia untuk jadi sempurna.

Hanya karena suami kurang rapih naro barang, habis makan gak cuci piring, lupa buang sampah. Saya suka bereaksi seolah dia habis dadag-dadag- an sama perempuan cakep (badut Chiki kali dadag-dadag).

Padahal kalau saya bilang baik-baik maunya saya bagaimana, mungkin lebih efektif dan dia lebih ngerti ketimbang saya harus menyampaikan ala-ala sinetron ‘Aku capek! Aku capek ngasi tau kamoh kalau jemur anduk itu harus lurus, jangan ada kemiringan walau tiga derajat!’ (ini boong, dialognya gak kayak ginilah. Kalau iya takut dibales dengan naro anduk di muka saya sambil bilang ‘lu aja jemur sendiri sono’.)

Kalau dibandingkan dengan cerita-cerita yang saya dengar; mulai dari suami yang kawin lagi diam-diam (Na’udzubillahimindzalik), yang suka ngomong kasar, yang ogah ngasuh anak, yang pelit. Maka hidup saya rasanya jauh lebih luas dan lapang. Tapi kenapa saya kadang tarik urat menuntut suami meningkatkan performanya lagi (duuuh, kamana atuh ‘performa’).
Padahal suami mungkin lebih banyak berlapang dada dengan masakan saya yang rasanya ‘harap maklum’, pemandangan rumah (dan istri) yang berantakan saat pulang kantor, kamar mandi yang belum sempat dibersihkan, dan lain sebagainya (jangan disebutin semua atuh, malulah 😁).

Suami saya ini memang teman baik saya dari jaman kami masih kuliah di fakultas yang sama sampai sekarang. Dia yang sabar mendengarkan curhat saya, yang mau susah-susah menuhin kebutuhan saya walau untuk sekedar jalan-jalan naik motor keliling-keliling buat melepas jenuh. Termasuk ijin masuk kantor setengah hari untuk nyoba nemenin anak di sekolah dan mengantar saya bila ada keperluan.
Dia juga berusaha menutup mata dan telinga rapat-rapat terhadap kekurangan saya.

Dia selalu mendukung untuk hal-hal yang dianggap positif buat saya dan anak, termasuk ketika saya memutuskan untuk menghentikan dulu sekolah anak kami. Dia yang menenangkan saya untuk tidak terlalu mengkhawatirkan banyak hal termasuk omongan orang.

Gak ada suami yang sempurna ya, sama halnya tidak ada istri yang sempurna ( dan saya perlu kaca yang gede ini kayaknya).
Tapi semoga Allah Subhanahu Wa Ta’ala memperbaiki kami supaya bisa hidup bersama saling dukung (agak berat juga mengingat timbangan kami yang sudah naik #eh).

Semoga saya bisa jadi teman baiknya yang lebih oke lagi.

Dan semoga persahabatan kami langgeng selamanya.

Allahumma aamiin.

6 Comments

Filed under Ngalor Ngidul

Anak Surau, Anak (me) Rantau

​Di malam-malam yang lampau

Juga di malam-malam purnama indah berkilau

Anak-anak bersenda gurau

Di surau…

Di surau…
Di malam-malam yang lampau

Anak-anak laki mengaji dan terlelap tanpa orang tua merasa risau

Di surau…

Di surau…
Malam dan siang berlalu cepat tanpa bisa dihalau

Anak laki tumbuh menjadi bujang lalu pergi merantau

Ada yang pergi sampai jauh ke luar pulau

Sepi kini di surau…

Lengang malam di surau
Duhai anak rantau, si anak surau

Jangan apa yang ditawarkan dunia membuatmu menjadi silau

Jangan kajimu menjadi parau…
Duhai anak surau

Jauh sudah engkau merantau

Walau hari hujan atau kemarau

Sesekali pulanglah engkau

Ke surau…

Ke surau…
Jakarta 25-05-2016

#selfreminder

Leave a comment

Filed under Puisi/Syair