Rindu Belum Tunai

​Ada kalanya rindu menjadi tanggungan masing-masing tiap orang.
Tanggungan yang kadang merepotkan.

Repot karena tanggungan semacam ini kadang tidak bisa segera ditunaikan.
Terlebih rindu pada tempat yang sekarang tidak dipijak, pada masa lampau yang tidak dapat diputar ulang.

Maka pada rindu yang serupa itu, apalah yang dapat kau lakukan kecuali pasrah merasakan matamu menghangat dan tenggorokanmu tercekat. Perpaduan rasa yang seringnya datang bersamaan.

Maka pada rindu yang serupa itu, engkau akan berusaha menyimpannya dulu nun di satu tempat dalam hatimu. Karena memang pada kenyataannya rindu itu tidak bisa dibasuh dengan segera dan tidak dapat ditunaikan dengan sempurna.

Maka kepada siapa lagi aku serahkan rindu yang butuh pertolongan ini, 

Selain kepada Allah Yang Menguasai Masa, Yang Menguasai Segala.

Bukan tempat lahirku, bukan.

Bukan tempat aku bertumbuh, bukan.

Hanya tempat dimana kisah bermula…
Tapi rindu memang istimewa bukan?

Ia datang tak perlu banyak alasan…
Rindu aku pada satu Nagari

Dimana padi masih menari-nari…

Jakarta, 31 Oktober 2016

Foto diambil dari Wikipedia

Leave a comment

Filed under Puisi/Syair

Kena Tipu

Kita ini sudah kena tipu
Tipuan yang kita buat sendiri
Sekuat tenaga dikerjakan segala yang diingin

Ulangi, segala yang diingin
Lalu pada tempat-tempat tertentu hasil berlelah-lelah mendapat pujian,

mandi cahaya kilat dari kamera,

maju ke muka mendapat benda sebagai simbol telah berjaya

Dikenal banyak manusia 

Masuk dalam kotak kaca
Kita ini kena tipu

Segala itu didapat sambil tanpa sadar dengan menanggalkan malu

Lalu kita buat penghargaan-penghargaan untuk kita sendiri
Sedang apa yang Allah katakan,

Acap kali tak dibaca

Seringnya dilupa
Lalu ketika seorang berjalan dengan usaha takwa
Senyum cemooh dia terima

Segala gelar ejekan tersemat tanpa bisa ditolak
Tak ada sanjungan

Tak ada piala
Tapi sungguh tak apa

Orang-orang macam itu berusaha bertahan tak pusingkan sanjungan dan piala,

Atau penghargaan dari manusia.
Semua akan tertinggal di dunia

Orang-orang itu cuma berusaha berpikir apa yang akan dia bawa,
Saat ruh meninggalkan raga.
Kita ini sudah kena tipu
Kerja kerja yang kita mau sendiri
Puji puji pula diri sendiri

Leave a comment

Filed under Puisi/Syair

Anak

Kadang aku ingin begini saja

Bukan karena aku tak ingin menua

Tapi adakah yang sepertimu…

Memelukku penuh rindu

Ketika bersua

Padahal hanya sesaat tak jumpa

Aku di dapur,

Engkau bermain di ruang tengah

Leave a comment

Filed under Puisi/Syair

Salah Kira

Kupikir… aku perlu cuti dari mengerjakan pekerjaan rumah sesekali

Atau mungkin aku perlu berlibur barang satu atau dua hari

Atau perlu bertemu dengan orang-orang sebentar saja, barangkali

Atau mungkin hanya perlu menulis sedikit saja menjabarkan isi hati

Tapi…
Cuti dari pekerjaan akan usai

Liburan akan selesai

Perpisahan akan sampai

Kalimat pada tulisanpun sudah banyak yang terangkai
Pun begitu,

Susah senang berputar tak tentu waktu

Sejauh dan sepayah itukah bahagia untuk dituju?

Sesaat aku tersadar,
Mengapa bahagia pada hatiku pada waktu-waktu tertentu menjadi samar
Karena…
Dzikir-dzkirku terhenti

Mulut jarang melantunkan ayat suci

Ponselku hampir tak pernah lepas dari genggaman jemari

Tapi Al-Qur’an teronggok di lemari
Segala cara dan tempatku berlari untuk melepas gundah tak ada yang abadi
Hanya Allah yang tak pernah pergi

Allah tak pernah pergi…
Aku salah kira,
Bukan badanku yang payah bekerja

Tapi hatiku yang sibuk dan tidak tertata
Ternyata

Letihku bukan pada raga

Tapi di dalam jiwa

Leave a comment

Filed under Puisi/Syair

Cukup

Untuk apa menjadi dikenal…?

Malam ini… tidur enak saja untuk menghilangkan letih sudah cukup

Ada Allah di ‘Arsy-Nya

Begini saja sudah cukup…

*renungan sebelum tidur dari orang yang kadang pengen beken, heu heu.

Leave a comment

29/09/2016 · 16:07

Renungan Cuci Beras

​Ada cerita.

Ada perempuan yang gerakan tangannya berhenti sejenak waktu mencuci beras yang hendak ia tanak.

Dilihatnya butiran beras basah di tangannya dengan rasa berdosa di dalam hati. Matanya mulai memanas.

Dilanjutkannya kembali pekerjaannya mencuci beras untuk dimasak. Tapi pikirannya terus berjalan ke beberapa tahun lalu.
Waktu itu dia sedang melamar kerja ke suatu tempat dan sangat berharap bisa diterima bekerja disana. Karena jenis pekerjaannya ia sukai dan dia sudah mulai letih melamar kerja kesana kemari.
Ternyata dia tidak lulus tes di tempat tersebut. Betapa kecewanya dia. Dan dia pun marah kepada Allah sambil berseru ‘Kemana lagi saya harus cari pekerjaan?’.

Singkat cerita, beberapa bulan kemudian dia dapat pekerjaan dengan tugas serupa di tempat yang lain. Bahkan dengan suasana dan tempat yang lebih menyenangkan.

Kemudian karena satu dan lain hal, dia memutuskan menjadi ibu rumah tangga saja.
Di saat mencuci beras itulah tiba-tiba saja dia ingat akan kemarahannya kepada Allah bertahun-tahun yang lalu itu.

Dari sekian banyak waktu yang ingin dia putar ulang untuk diperbaiki, dia sangat ingin bisa kembali saat dia tidak lulus tes di tempat kerja impiannya dulu. Dia ingin agar saat itu dia bisa bersabar walau kecewa. Tapi kemudian dia berpikir, apa yang sudah terjadi atas izin Allah. Dia berusaha mengambil pelajaran jadi kejadian tersebut.

Dia merasa sangat berdosa pada Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Sekaligus merasa sangat teramat malu.

Dia bilang, walau hanya diam di rumah, betapa Allah ‘Azza Wa Jalla mencukupi semua kebutuhannya. Pakaian yang baik, tempat tinggal yang baik. Semuanya. Termasuk butir-butir beras yang sedang ia cuci. Dengan begitu mudahnya beras datang ke tangannya untuk kemudian berpindah ke dalam perutnya dan keluarganya. Tanpa ia harus bersusah payah menanam padi lebih dulu. Mudah, sungguh mudah ia dapatkan kebutuhannya. Dan semuanya cukup.

Dia tidak berada dalam kondisi yang kelaparan. Dia tidak berada dalam kondisi hidup di jalanan. Dia merasa aman dan lapang.

Benar-benar dia malu saat megingat dirinya protes kepada Allah ‘Azza Wa Jalla. Seolah dia pikir Allah tidak tahu bagaimana memenuhi rezekinya. Seolah Allah tidak tahu mana yang terbaik untuk dirinya.

Sudah demikian buruk persangkaannya kepada Allah tapi Allah tidak memutus rezekinya. Sedikitpun tidak.

Dalam tangisnya yang tidak bersuara, perempuan itu berharap sangat, Allah Subhanahu Wa Ta’ala mengampuninya, atas kebodohan dan kedurhakaannya dulu.

Semoga Allah ‘Azza Wa Jalla mengampuninya.

Allahumma aamiin.

Leave a comment

Filed under Ngalor Ngidul

Orang Islam…

​Saya punya tetangga yang rumahnya gak deket-deket amat jaraknya dari rumah saya. Tetangga saya ini seorang nenek keturunan Tionghoa. Saya biasa panggil beliau ‘Oma’. Dia tinggal sendirian. Putra semata wayangnya sudah kerja dan kost di daerah Jakarta Barat (kami tinggal di daerah Jakarta Timur yang sedikit lagi ‘nowel’ Bekasi). Suaminya sudah meninggal. Kata Oma, suaminya orang Solok, Sumatra Barat. Mungkin itu sebab dia cukup fasih berbahasa Minang.
Rumah Oma dominan berwarna putih dengan ukuran rumah dan halaman yang mungil. Dari depan terlihat bersih. Saya sering lewat depan rumahnya. Seringnya sih pintunya ditutup. Bulan-bulan yang lalu dia masih sesekali mengajar bahasa Belanda semi privat di daerah Jakarta Barat.

Kadang waktu saya lewat beliau sedang menyiram rumput di halaman rumahnya, kalau sudah begitu kadang-kadang langkah saya tertahan untuk ngobrol dengan Oma. 

Satu hari saya melihat papan kecil bertuliskan ‘dijual’ digantung di pagar rumah Oma. Saya ngebatin, ‘Wah dijual? Kenapa? Mau pindahkah?’. 
Dan ketika satu sore saya ketemu beliau di jalan, langsung saya tanya. Percakapan ini saya tulis seingat saya aja ya.

Saya: ” Oma, kok rumahnya dijual? Mau pindah ya?”.
Oma: “Eh itu kan rumah kakak saya. Saya bilang ke dia ‘Jual ajalah Ci (mungkin maksudnya Jiĕ Jiĕ, yang biasanya disingkat jadi ‘Ci’, panggilan untuk kakak perempuan dalam bahasa Mandarin)! ‘. Maksud saya mumpung masih ada, nanti uangnya bisa dia bagi ke anak-anaknya.”

Oma cerita, kakak perempuannya tinggal di Belanda, nikah sama ‘orang sana’, katanya. Anak-anaknya tinggal di beberapa negara berbeda. Rumah yang Oma tempati di Jakarta ini dulu kakaknya yang beli, lalu dia yang tempati. Menurut Oma repot kalau nanti-nanti dijual. Khawatir kalau kakaknya ‘udah gak ada’, repot ‘bagi-baginya’ (kayaknya saya kebanyakan pakai tanda petik yaaa).

Saya tanya, “Trus nanti Oma tinggal dimana?”, “Gampanglah aku ngontrak.” 
Terus si Oma masih ngajak ngobrol, “Eh, kemarin ada yag bilang gini ke saya, ‘Rumahnya dijual satu (M) lebih aja! Nanti bilang ke kakaknya dijualnya satu M. Lebihnya diambil.’, tuh orang Islam tuh yang ngomong!”, kata Oma dengan mimik muka serius sambil nunjuk ke saya. Saya ketawa (rada ‘nyos’ juga dalem ati). Saya jawab santai, “Itu oknum Oma…, oknum! Hehehe. Jangan Oma. Gak berkah ntar.”

“Saya tinggal di rumah itu dari anak nol. Masa saya mau begitu.”. Saya setuju banget sama Oma. Gak etis aja (dan kalau dalam Islam juga ada aturan ya untuk jual beli).

Ini bukan kali pertama Oma ‘komplen’ soal orang Islam. 

Dulu waktu kami lagi ngobrol dekat rumahnya, terselip dalam obrolan, “Kami gak pernah tuh makan-makan kayak kalian pas hari raya.”, terkesan hari Lebaran dirayakan oleh umat Muslim dengan menghambur-hamburkan makanan. Saya ketawa aja waktu itu. Susah ngejelasinnya. Lagian gak perlu juga menurut saya waktu itu buat ngejelasin, di jalan pula.
Memang begitu faktanya. Islam sering dilihat dari penganutnya.  Kalau ada seorang beragama Islam melakukan atau ngomong yang ‘gak enak’, maka yang bakal kena label jelek juga agama Islamnya. Padahal bukan begitu. Bisa jadi orangnya belum tau aturan yang sebenarnya bagaimana dalam Islam. 
Contoh, yang lagi trend, aksi teror bom yang mengatasnamakan jihad. Dalam Islam jihad yang semacam mengangkat senjata itu gak bisa dijalanin sesuka hati ya. Ada aturannya. Setau saya harus ada perintah dari Ulil Amri (Pemerintah). Bukan perintah dari sembarang orang.

Banyak aturan dalam Islam yang kita belum paham (paham ya, bukan sekedar tau). Dan mungkin kita lebih tergoda buat ngasih opini ketimbang repot-repot cari tau sebenernya aturannya gimana.

Tapi saya gak ambil hati kalau sama Oma. Saya maklum, kan dia sepertinya gak banyak tau ajaran Islam.

Oh iya, sebelum bulan Ramadhan tahun 2016 ini, saya dengar si Oma masuk Islam, jadi muallaf. Maka begitu ketemu suatu sore menjelang Maghrib di depan RM. Minang dekat rumah, saya tanya soal kabar tersebut.
Oma sambil senyum-senyum bilang, “Kok kamu tau sih? Tapi saya gak mau pake beginian. Nanti saya kayak setan.”, kata Oma sambil nunjuk jilbab dan gamis saya yang warnanya gelap.

Saya ketawa. Agak ‘speechless’ juga. 😂

2 Comments

Filed under Ngalor Ngidul