Harap

​Anakku harus bisa membaca Al-Qur’an

Karena Al-Qur’an akan melipur laranya, menghapus kesedihannya…
Anakku harus dapat membaca Al-Qur’an

Karena didalamnya semua petunjuk jalan-jalan yang harus ia tapaki, pun jalan-jalan yang harus ia hindari
Anakku, semoga ia mendekap erat Al-Qur’an dalam hidupnya,

Sehingga…

Sepi tidak akan menghujamnya

Lelah tidak akan menghimpitnya

Perihal cinta akan diketahui dimana sejatinya

Ketika sekali helaan nafas ia terlupa, pada helaan berikut lekas ia kembali mengingat Rabb-nya
Anakku, semoga dadanya dipenuhi dengan kalimat-kalimat Allah,

Sehingga

Ia tak akan gentar…

Ia tak akan rapuh…

Ia tak akan layu…

Ia tahu, Ia yakin…

Ketika dunia berpaling, Rabb-nya tidak…
Harapan-harapanku yang terbilang barusan harus bermula dariku
Akulah yang harus bisa membaca Al-Qur’an

Aku yang harus terlebih dulu dapat membaca Al-Qur’an

Aku yang harus mendekap erat Al-Qur’an saat melangkah

Aku pula yang harus memenuhi hatiku dengan Al-Qur’an

Maka aku memiliki gempita untuk menuntun anakku
Berat memang

Payah terasa

Karena lama Al-Qur’an sempat tertinggal

Berganti syair-syair imitasi bahagia
Biar tertatih,

Tapi rahmat Allah bukan tak mungkin diraih
Ya-Rabb

Ini aku meminta

Ringankanlah langkahku…

Advertisements

Leave a comment

Filed under Ngalor Ngidul

Membeli Surga

​Fika melambai pada anak bungsunya yang mulai nampak mengecil seiring mobil jemputan sekolah bergerak menjauh dari rumah. Setelah menutup pagar, ia mendengar perutnya berbunyi minta diisi, dengan langkah santai ia menuju meja makan dan alisnya sedikit terangkat melihat nasi goreng di piring besar hanya tersisa beberapa butir.
Pemandangan sisa nasi goreng itu melukis senyum di wajahnya. Pagi ini nasi gorengnya laris untuk sarapan suami dan anak-anak. Namun senandung di perutnya kembali terdengar.
Hanya dalam hitungan detik, ia memutuskan pergi ke ujung jalan komplek untuk membeli ketoprak kesukaannya. Dengan segera ia mengganti pakaiannya lengkap dengan jilbab dan kaus kaki. Ketika hendak meraih dompet di atas meja rias, Fika berpikir, agaknya malas harus menenteng dompet jika hanya untuk membeli ketoprak yang tidak jauh dari rumah. Ia mengambil selembar lima puluh ribu dari dalam dompet. Saat hendak berbalik badan, langkahnya tertahan,
‘Mungkin nanti aku mampir ke tukang sayur.’, batinnya. Diambilnya selembar uang seratus ribu dari dalam dompetnya.
Setelah mengunci pintu dan pagar, Fika melangkah menuju ujung jalan komplek, dari tempatnya berjalan sudah terlihat gerobak berwarna biru muda milik tukang ketoprak. Tak lama Fika sampai, beberapa orang sudah mengantri. 
“Satu, dibungkus ya, Pak. Pedes.”, Fika menyampaikan pesanannya. Bapak tukang ketoprak mengiyakan sambil tetap mengerjakan pesanan lain yang sedang ditunggu empat orang yang sedang duduk di kursi kayu panjang.
Sesekali Fika melemparkan pandangannya ke sekeliling. Beberapa tetangga yang lewat bertukar sapa dengannya.
Sebuah gerobak kayu besar berisi banyak pisang melintas pelan. Fika melihat pada bapak tua yang mendorong gerobak itu. 

Dalam hatinya menyelisip iba yang membuat ia harus menarik nafas agak dalam. 

Bapak tua berkulit legam dengan baju yang warnanya sudah tidak terang. Sandal jepitnyapun sudah tipis. Usianya mungkin sudah diatas bilangan tujuh puluh.
Fika bergegas mendekati bapak tua itu.

“Pak, pisangnya berapa?”

“Sepuluh rebu, neng.”

“Saya mau satu ya, Pak…”

Bapak itu mengangguk, mengambil sebuah plastik hitam tipis yang sudah kusut dari bawah gerobaknya. 
Pisang yang sudah dimasukkan ke dalam plastik berpindah tangan, Fika menyodorkan selembar lima puluh ribu.
“Neng, kembaliannya belum ada.”

“Gak usah, Pak.”

“Makasih ya neng.”, sahut si Bapak tua pelan.

“Sama-sama, Pak.”, ujar Fika sambil berjalan kembali menuju gerobak ketoprak.
Pesanan ketoprak belum lagi selesai. Otak Fika berputar-putar menghitung, ‘Harga sesisir pisang ini sepuluh ribu, mungkin untung si Bapak tidak banyak. Uang kembalian empat puluh ribu yang utuh untuk si Bapak. Empat puluh ribu kalau dibelanjakan ke mini market hari gini dapet apa….’.
Bapak tua yang mendorong gerobak berisi pisang bergerak menjauh. Fika berlari mengejarnya. Khawatir Bapak tua itu makin menjauh untuk disusul.

Ketika hampir sampai, Fika berteriak pelan,

“Pak..! Pak..!”, Fika sedikit tersengal. Gerobak pisang berhenti.

“Maaf, uang yang tadi ditukar ya, Pak..”

Tanpa ekspresi, Bapak tua itu mencopot topi yang dikenakannya, mengeluarkan lembaran lima puluh ribu yang tadi diberikan Fika dari lapisan dalam topinya. Diserahkannya uang itu pada Fika.
“Ini, Pak.”, Fika menyerahkan selembar seratus ribu. 

Jemari kurus hitam dan berkeriput itu menerima uang dari Fika. Wajahnya  seperti meneliti namun tanpa ekspresi. 
Fika segera berbalik badan dan setengah berlari menuju gerobak tukang ketoprak. Ketopraknya sudah siap. Dibayarnya sebungkus ketoprak itu, lantas ia bergegas pulang.
Dalam benaknya, ia sudah berencana untuk mengabari suaminya di kantor perihal uang belanja yang dipakainya untuk diberikan ke Bapak penjual pisang.
Sampai di rumah, Fika segera mencari telpon genggamnya. Dilihatnya jam dinding di atas televisi, ‘Masih jam sembilan. Belum istirahat, ganggu gak ya…, aku kirim pesan sajalah.’, batinnya.
‘Mas, aku tadi beli pisang.’ *terkirim*
‘Oh iya, terus kenapa. Kok tumben lapornya kepagian ?:D’, *pesan masuk*
‘Belinya seratus ribu.’ *terkirim*
‘Hah? Mahal amat? Beli berapa sisir?’. *pesan masuk*
‘Satu doang. Harganya sepuluh ribu, tadinya aku bayar lima puluh ribu. Kembalian empat puluh ribu niatnya mau aku sedekahin ke yang jual. Kasian mas,  bapak-bapak udah tua. Terus kupikir empat puluh ribu hari gini kalo ke mini market aja paling dapet apa…, akhirnya aku tuker sama seratus ribuan. Maaf ya, aku pake uang belanja buat sedekah dan baru bilang belakangan.’ *terkirim*
‘Oh gitu…., iya gak apa-apa. :)’ *pesan masuk*
‘Maaf kalau kebanyakan sedekahnya, Mas.’ *terkirim*
‘Sembilan puluh ribu terlalu murah untuk membeli surga, sayang… dan Alhamdulillah kita masih ada uang untuk nutupin kebutuhan kita. Orang lain ada yang berharap wajah Allah dengan jiwanya. Dan yang kamu kasih ke si Bapak itu sudah rejekinya si Bapak, datang melalui kamu. Allah Maha Baik ya, kita dikasih kemudahan buat beramal, pahalanya pun kalau ikhlas buat kita. Wallahu a’lam. ☺’ *pesan masuk*
Fika menghela nafas. Ya, mengapa dia cemas uang sembilan puluh ribu terlalu banyak untuk disedekahkan. Padahal itu tak cukup banyak juga kalau dibelanjakan ke pasar.

‘Jazaakallah khoyron katsir ya, Mas. Semoga Allah balas kebaikan Mas dengan yang lebih baik.’ *terkirim

‘Waiyyaki. Sama-sama…, semoga Allah membalas kebaikanmu juga. :)’ *pesan masuk*

Perut Fika kembali berbunyi, dia teringat sebungkus ketoprak yang diletakkan di atas meja makan belum lagi dibuka. Saatnya menjodohkan ketoprak tersebut dengan perutnya.

Leave a comment

Filed under Cerpen (ceritanya)

Rindu Belum Tunai

​Ada kalanya rindu menjadi tanggungan masing-masing tiap orang.
Tanggungan yang kadang merepotkan.

Repot karena tanggungan semacam ini kadang tidak bisa segera ditunaikan.
Terlebih rindu pada tempat yang sekarang tidak dipijak, pada masa lampau yang tidak dapat diputar ulang.

Maka pada rindu yang serupa itu, apalah yang dapat kau lakukan kecuali pasrah merasakan matamu menghangat dan tenggorokanmu tercekat. Perpaduan rasa yang seringnya datang bersamaan.

Maka pada rindu yang serupa itu, engkau akan berusaha menyimpannya dulu nun di satu tempat dalam hatimu. Karena memang pada kenyataannya rindu itu tidak bisa dibasuh dengan segera dan tidak dapat ditunaikan dengan sempurna.

Maka kepada siapa lagi aku serahkan rindu yang butuh pertolongan ini, 

Selain kepada Allah Yang Menguasai Masa, Yang Menguasai Segala.

Bukan tempat lahirku, bukan.

Bukan tempat aku bertumbuh, bukan.

Hanya tempat dimana kisah bermula…
Tapi rindu memang istimewa bukan?

Ia datang tak perlu banyak alasan…
Rindu aku pada satu Nagari

Dimana padi masih menari-nari…

Jakarta, 31 Oktober 2016

Foto diambil dari Wikipedia

Leave a comment

Filed under Puisi/Syair

Kena Tipu

Kita ini sudah kena tipu
Tipuan yang kita buat sendiri
Sekuat tenaga dikerjakan segala yang diingin

Ulangi, segala yang diingin
Lalu pada tempat-tempat tertentu hasil berlelah-lelah mendapat pujian,

mandi cahaya kilat dari kamera,

maju ke muka mendapat benda sebagai simbol telah berjaya

Dikenal banyak manusia 

Masuk dalam kotak kaca
Kita ini kena tipu

Segala itu didapat sambil tanpa sadar dengan menanggalkan malu

Lalu kita buat penghargaan-penghargaan untuk kita sendiri
Sedang apa yang Allah katakan,

Acap kali tak dibaca

Seringnya dilupa
Lalu ketika seorang berjalan dengan usaha takwa
Senyum cemooh dia terima

Segala gelar ejekan tersemat tanpa bisa ditolak
Tak ada sanjungan

Tak ada piala
Tapi sungguh tak apa

Orang-orang macam itu berusaha bertahan tak pusingkan sanjungan dan piala,

Atau penghargaan dari manusia.
Semua akan tertinggal di dunia

Orang-orang itu cuma berusaha berpikir apa yang akan dia bawa,
Saat ruh meninggalkan raga.
Kita ini sudah kena tipu
Kerja kerja yang kita mau sendiri
Puji puji pula diri sendiri

Leave a comment

Filed under Puisi/Syair

Anak

Kadang aku ingin begini saja

Bukan karena aku tak ingin menua

Tapi adakah yang sepertimu…

Memelukku penuh rindu

Ketika bersua

Padahal hanya sesaat tak jumpa

Aku di dapur,

Engkau bermain di ruang tengah

Leave a comment

Filed under Puisi/Syair

Salah Kira

Kupikir… aku perlu cuti dari mengerjakan pekerjaan rumah sesekali

Atau mungkin aku perlu berlibur barang satu atau dua hari

Atau perlu bertemu dengan orang-orang sebentar saja, barangkali

Atau mungkin hanya perlu menulis sedikit saja menjabarkan isi hati

Tapi…
Cuti dari pekerjaan akan usai

Liburan akan selesai

Perpisahan akan sampai

Kalimat pada tulisanpun sudah banyak yang terangkai
Pun begitu,

Susah senang berputar tak tentu waktu

Sejauh dan sepayah itukah bahagia untuk dituju?

Sesaat aku tersadar,
Mengapa bahagia pada hatiku pada waktu-waktu tertentu menjadi samar
Karena…
Dzikir-dzkirku terhenti

Mulut jarang melantunkan ayat suci

Ponselku hampir tak pernah lepas dari genggaman jemari

Tapi Al-Qur’an teronggok di lemari
Segala cara dan tempatku berlari untuk melepas gundah tak ada yang abadi
Hanya Allah yang tak pernah pergi

Allah tak pernah pergi…
Aku salah kira,
Bukan badanku yang payah bekerja

Tapi hatiku yang sibuk dan tidak tertata
Ternyata

Letihku bukan pada raga

Tapi di dalam jiwa

Leave a comment

Filed under Puisi/Syair

Cukup

Untuk apa menjadi dikenal…?

Malam ini… tidur enak saja untuk menghilangkan letih sudah cukup

Ada Allah di ‘Arsy-Nya

Begini saja sudah cukup…

*renungan sebelum tidur dari orang yang kadang pengen beken, heu heu.

Leave a comment

29/09/2016 · 16:07